Minggu, 25 April 2021

Bumi Sesungguhnya

Bumi Sesungguhnya

Namaku bumi
Tempat berpijak
Rendah ....

Kesabaran adalah aku
Muntahan isi perutku
Tsunami dan tornado

Irama dalam paduan ku cipta
Tepi-tepi laut guratan yang fana
Kelabu, biru, jingga dan hitam
Kehidupan seni serta keindahan

Diam di pidato-pidato pagi hingga petang
Terbang dan tenggelam....
Dalam nyanyi daku berbisik lantang
Teriakan tanpa suara....
Membunuhi kerusakan dengan bencana

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut 
Sebab perbuatan tangan manusia
Agar manusia merasakan sebagian akibat dari perbuatannya
Kembalilah ke jalan yang benar

Rabu, 24 Maret 2021

Jurnal MIF PPM BSF Serta Support Direktur Pengelolaan Sampah KLHK (video)

Suhu ruang rata2 25°C, mempengaruhi suhu reaktor, suhu reaktor sulit mencapai 35°C. Dimana 35°C adalah minimal suhu reaktor untuk bsfl.

 

Sampah yang digunakan mayoritas sisa Buah-buahan dari pasar Induk gedebage berkadar air >90%.

 

Kondisi media yg banyak air menjadikan suhu reaktor hanya maksimum di angka 30°C (ideal 35°C). Air menyerap panas, suhu reaktor tidak cukup konstan menguapkannya. Kadar air ideal untuk bsfl adalah 60% - 70%.

 

Kesimpulannya suhu ruang dan bahan baku mempengaruhi suhu reaktor.

 

Perlakuan dengan tanpa pengadukkan juga ditengarai Menjadi faktor lambatnya air menguap ke udara, kandungan air yang terperangkap pada media membutuhkan perlakuan pembalikkan sehingga membantu air menguap di udara.

 

Bahan-bahan yang masih bernutrisi mempengaruhi pada volume bsfl, semakin bernutrisi (campur)

semakin baik.

 

Pada suhu reaktor di bawah 30°C konversi terhadap kasgot Menjadi tinggi, yaitu mencapai 60% lebih. Hal ini dimungkinkan Karena bsf lambat mencerna bahan Organik. Konversi terhadap bsfl relatif berkurang antara 15% - 24% dari konversi terbesar yang pernah kami amati dan catat, yaitu 32%.

 

Menjadi perbandingan di daerah dengan ketinggian 668,7m dpl reaktor bsfl hangat dan hampir tidak berbau, yang membedakan di lokasi ini adalah asupan pakan bsfl dari bekas Sampah Organik hotel, besar kemungkinan kadar air nya cukup kisaran 60%-70%

asupan s.o.d ttl per box max 12kg

 

awal hatching, tgl 26/1 @2kg, tgl 8/2 @4kg, tgl 15-16/2 @4kg, ttl 10kg s.o.d kalaupun lebih yg 4kg mungkin bisa 5kg, jadi maksimal 12kg s.o.d+kohe ayam

konversi sdh cukup untuk maggot sekitar 16-25%

kasgot nya lebih banyak konversinya 60-75%.

 

ruang bsf di mif harus di tutup rapat dengan sirkulasi udara yg cukup, sehingga suhu bisa mudah diatur, termasuk pencahayaan. Ini membantu juga menghindari predator spt  : tikus , dll

 

Asupan bahan makanan maggot bsf sebaiknya sisa makanan yg heterogen, dalam penelitian saya 2010an : buah2an dan sayur2an berkadar air 90%; nasi basi, kue2, roti, tahu, tempe Dll berkadar air 70%; daging & ikan berkadar air 50%. Maggot ideal di kadar air 60-70%.

 

Suhu reaktor sepertinya bisa direkayasa juga dengan bahan2 asupan nya menghindari buah2an & sayur.

 

Karena air menyerap panas dan mendinginkan, sehingga reaktor berbahan asupan buah2an dan sayur2an saja cenderung lebih dingin dan sulit mencapai suhu ideal (35°c)

 

Total max s.o.d 12 jadi maggot 2-3kg, konversi 16% - 25%

Total max s.o.d 12 jadi kasgot 2-3kg, konversi 62%

 

https://youtu.be/ekL7FMO-rQE

Minggu, 14 Maret 2021

BSF DIKETINGGIAN 878 MDPL

BSF DI KETINGGIAN 878MDPL

Pada Maret 2018 kami mendampingi pengolahan Sampah Organik Sisa Makanan (s.o.d) di Kelurahan Cisurupan Kecamatan Cibiru Kota Bandung, lokasi berada di belakang Kantor Kelurahan. Ada beberapa warga yang mencontohnya untuk ditetapkan di wilayah masing-masing.
Kali ini masih di Kelurahan yang sama kami membantu MIF (Manglayang Integrated Farm) untuk merealisasikan cita-cita menjadi pusat belajar dalam mengintegrasikan pengolahan Sampah Organik di sektor hulu hingga Hilir dengan peternakan dan pertanian.
Diketinggian 878mdpl suhu ruangan di MIF sangat jarang mencapai suhu ideal untuk berkembangnya BSF. Meskipun telur BSF bisa kami hasilkan dengan baik (rata2 rutin ditahap awal dikisaran 10gram/Hari). Tantangan yang utamanya bukan di produksi telur bsf, melainkan menjaga kestabilan suhu reaktor hingga bisa mencapai 35°C dan stabil minimal di suhu ini. Perlu diketahui suhu ruang di MIF ; pagi Hari 24-26°C, siang Hari 26-30°C, sore Hari 22-26°C, malam Hari hingga dini Hari bisa di bawah 20°C.
Tgl 26/1/2021 telur bsf sebanyak 100gram kami tetaskan (hatching) dengan memberikan media untuk larva yang menetas s.o.d @2kg/box sebanyak 100boc, ttl 200kg s.o.d.

Tgl 8/2/2021, usia larva/maggot 9 Hari kondisi media tidak begitu baik, penyusutan bobot rata-rata hanya 50% saja, larva tampak tidak terlalu besar fisiknya, suhu reaktor rata-rata dibawah 30°C, kami berikan tambahan asupan s.o.d @4kg x 100box, ttl 400kg. Berharap terjadi proses reaksi di box-box tersebut seperti biasanya.
Keesokan harinya dilakukan pengecekkan suhu reaktor secara random, suhu rata-rata pada reaktor bsf 24-28°C. Dalam upaya peningkatan suhu reaktor diberikan kohe ayam dengan ditaburi dibagian atas dadicampur, sementara diuji beberapa box reaktor. Sorenya dilakukan pengecekkan suhu direaktor yg ditambahkan kohe ayam tersebut, suhu meningkat hingga 32°C pada pemberian kohe ayam yang ditaburi, sedangkan yang dicampur tdk banyak berubah. Perlu diketahui bahwa bahan Organik yang digunakan mayoritas Sampah Buah-buahan dari pasar Induk gedebage Kota Bandung, kadar airnya sekitar 90%. Kemudian perlakuan pemberian kohe ayam dengan ditaburi diberikan ke beberapa box reaktor dengan harapan suhu reaktor meningkat, sehingga proses bisa sesuai rencana.
Benar saja suhu reaktor yang diberikan asupan kohe ayam meningkat hingga 32°C, rata-rata box suhunya diatas 30°C, tapi blm ada yg mencapai suhu ideal minimum yaitu 35°C. Tgl 15/2/2021 kami berikan asupan s.o.d 40 box @4kg+ kohe ayam, maggot usia 15 Hari kelihatan ya cukup besar2 walau tdk merata semua box, sepertinya cukup pemberian s.o.d, menuju panen, diambil kasgotnya bagian atas 1cm mulai besok hingga 3hari ke depan. Yg belum besok dikasih s.o.d nya.

Tgl 16/2 s.o.d 80box @4kg+kohe ayam, terakhir kasih makan , 3 Hari ke depan panen maggot 100box
Rencana panen senin, 22/2/2021

Tgl 23/2 panen maggot 2kg & 2,5kg dr 2 box
Tgl 24/2 panen maggot ke 2 30kg. 
Fisik maggot besar merata panjang rata2 2cm.

Asupan s.o.d ttl per box max 12kg ; awal hatching, tgl 26/1 @2kg, tgl 8/2 @4kg, tgl 15-16/2 @4kg, ttl 10kg s.o.d kalaupun lebih yg 4kg mungkin bisa 5kg, jadi maksimal 12kg s.o.d+kohe ayam. Konversi bahan Organik Menjadi maggot bsf sekitar 16-25%, hanya saja kasgot nya lebih banyak konversinya 60-75% atau 7,4kg dalam tiap box.

Kesimpulan budidaya bsf di Ketinggian 878mdpl dengan mayoritas asupan pakan Sampah buah2an :
1. Suhu ruang mempengaruhi suhu reaktor. 
2. Perlu ruang insulated dengan design sirkulasi udara yg bisa buka tutup. Untuk menjaga suhu tetap stabil.
3. Pemberian media pakan berkadar air tinggi mempengaruhi suhu reaktor dan suhu reaktor mempengaruhi kemampuan makan maggot bsf.
4. Konversi bahan Organik Menjadi maggot bsf diketinggian kurang baik meskipun dirasakan cukup 16-25%.
5. Konversi bahan Organik Menjadi kasgot (bekas maggot) sangat tinggi 60-75%.

#NOLkanSOD #biokonversibsf #PakanTernakMurah #RevolusiHijau40 #KetahananPanganMandiri #ManfaatkanSampah #HilirSODTernakTaniIkan

Senin, 22 Februari 2021

Sampah Sebagai Bahan Baku Ekonomi Di Masa Pandemi

 

TANGGAPAN PIDATO MENTERI KLHK DI HPSN 2021

Akhirnya saya ingin mengajak kita semua untuk kiranya menjadi fokus kita bersama kita jadikan HPSN 2021 sebagai milestone untuk bergerak, bekerja dan menjadi masyarakat yang produktif bersama, dengan kolaborasi membangun pengelolaan sampah yang lebih baik melalui upaya-upaya :

Pertama, Memperkuat komitmen dan peran aktif pemerintah daerah dalam melaksanakan pengelolaan sampah dengan menjadikan sampah sebagai bahan baku ekonomi;

Kedua, Memperkuat partisipasi publik dalam upaya menjadikan sampah sebagai bahan baku ekonomi melalui gerakan memilah sampah; dan

Ketiga, Memperkuat komitmen dan peran aktif produsen dan pelaku usaha lainnya dalam implementasi bisnis hijau (green business) dengan menjadikan sampah sebagai bahan baku ekonomi.

Selaku penanggungjawab pengelolaan sampah nasional saya mengajak aparat pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dunia usaha, LSM dan komunitas, organisasi kemasyarakatan, pelajar dan mahasiswa, organisasi keagamaan, pesantren, organisasi perempuan, ibu-ibu PKK, organisasi kepemudaan, organisasi profesi dan semua pihak, serta masyarakat luas untuk bergerak dan bekerja dalam tugas, tanggung jawab, kewenangan, dan kompetensi masing-masing membangun era baru pengelolaan sampah di Indonesia yang menempatkan:

1) memegang prinsip bahwa pengurangan sampah dan penanganan sampah sama pentingnya,

2) mendorong perilaku minim sampah sebagai budaya baru masyarakat Indonesia,

3) mengembangkan sirkular ekonomi dan aplikasi teknologi ramah lingkungan sebagai fondasi waste to resource,

4) melangkah dalam kolaborasi yang efektif, kreatif dan membangun kebersamaan, gotong royong; serta

5) pemrosesan akhir yang berwawasan lingkungan. Semua itu merupakan upaya kita bersama untuk mewujudkan Indonesia Bersih, Indonesia Maju, dan Indonesia Sejahtera.

Mari kita bersama-sama berkomitmen, berniat dan bekerja implementasi dengan tulus, lagi-lagi untuk membangun Indonesia yang lebih baik, Indonesia yang lebih maju dan lebih sejahtera. Terima kasih. (Sambutan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Dalam Acara Hari Peduli Sampah Nasional /HPSN yang diselenggarakan secara online) 

Paguyuban Pegiat Maggot (Nusantara) mengapresiasi Ibu Menteri yang telah mengajak seluruh komponen masyarakat ; baik aparat pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dunia usaha, LSM dan komunitas, organisasi kemasyarakatan, pelajar dan mahasiswa, organisasi keagamaan, pesantren, organisasi perempuan, ibu-ibu PKK, organisasi kepemudaan, organisasi profesi dan semua pihak, serta masyarakat luas untuk bergerak dan bekerja dalam tugas, tanggung jawab, kewenangan, dan kompetensi masing-masing membangun era baru pengelolaan sampah di Indonesia.

Ada satu hal yang luput dari pidato tersebut, bahwasannya sampah organic memiliki timbulan sampah tertinggi dari sampah-sampah lainnya, dalam SIPSN (Sistem Informasi Persampahan Sampah Nasional) 2021

Dari angka prosentase timbulan sampah di atas menyatakan sampah sisa makanan memiliki prosentase tertinggi yaitu 41,3%. Angka ini bagi Paguyuban Pegiat Maggot (nusantara) adalah potensi besar untuk dijadikan bahan baku ekonomi sebagaimana disampaikan Ibu Menteri dalam sambutannya. Hanya saja dalam aplikasi dilapangan Kami/PPM belum melihat keseriusan pemerintah sebagai penganggung jawab operasional persampahan (mengutip ucapan menteri LHK) memanfaatkan 41,3% potensi ini menjadi bahan baku ekonomi.

Terkait dengan target pemerintah dengan 30% pengurangan dan 70% penanganan, meskipun dilapangan masih menjadi bahan perdebatan mengenai 30% pengurangan ini. Kami Paguyuban Pegiat Maggot (nusantara) dengan jejaring tersebar di 27 provinsi memberikan masukkan secara terbuka kepada Ibu Menteri LHK bahwasannya 30% pengurangan itu hanya dapat dilakukan jika mengolah sampah sisa makanan yang 41,3% tersebut. Dengan tidak mengabaikan pengolahan sampah lainnya.

Terlebih jika melihat angka timbulan sampah berdasarkan sumber ssampah berikut,

Angka tertinggi timbulan sampah berdasarkan sumber secara berturut-turut sebagai berikut :

1.      Tertinggi Pertama Sampah berasal dari Rumah Tangga sebesar 32,6%

2.      Tertinggi ke dua Sampah berasal dari Pasar Tradisional sebesar 21%

3.      Tertinggi ke tiga Sampah berasal dari Perkantoran sebesar 16,8%

4.      Tertinggi ke empat Sampah berasal dari Pusat Perniagaan sebesar 9,2%

5.      Tertinggi ke lima Sampah berasal dari Kawasan sebesar 8,5%

Upaya pengurangan sampah terkirim ke TPA dengan melakukan pengolahan sebaiknya dilakukan dengan skala prioritas ; melihat kondisi sampah.  Paguyuban Pegiat Maggot (nusantara) telah bergerak melakukan pengolahan sampah sisa makanan baik yang berasal dari berbagai sumber. Pengolahan dengan metode biokonversi bsf menggunakan larva/maggot bsf. Tercatat 51 ton lebih per hari sampah organic telah kami olah dengan metode ini.

Mengacu kepada angka-angka SIPSN 2021 tersebut, maka sampah sisa makanan pada masing-masing asal timbulan sebagai berikut :


Keterangan :

Dengan melakukan biokonversi bsf di :

  1. rumah tangga maka pengurangan bisa mencapai 13,46%, hal ini mungkin dan sedang dilakukan namun bergerak perlahan.
  2. pasar tradisional maka pengurangan bisa mencapai 8,67% (bahkan lebih, mengingat sampah pasar 80% putrescible, damanhuri), jika sampah putrescible 80% maka angka sebenarnya adalah 16,80%, hal ini sangat mungkin dilakukan.
  3. Perkantoran pengurangan bisa mencapai 6,94%, hal ini sangat mungkin dilakukan.
  4. Pusat Perniagaan maka pengurangan bisa mencapai 3,8% (bahkan lebih, mengingat sampah pasar 70% putrescible, damanhuri), jika sampah putrescible 70% maka angka sebenarnya adalah 6,44%, hal ini sangat mungkin dilakukan.
  5. Dengan melakukan pengolahan sampah sisa makanan di pasar dan pusat perniagaan, pengurangan bisa mencapai 23,24%.

Sampah Sisa Makanan Bahan Baku Biokonversi BSF

Penggunaan larva BSF sebagai pengolah sampah organik merupakan suatu peluang yang menjanjikan, karena larva BSF yang dipanen tersebut dapat berguna sebagai sumber protein untuk pakan hewan (ternak), sehingga dapat menjadi pakan alternatif pengganti pakan konvensional serta hasil sampingannya adalah pupuk cair berasam amino tinggi dan kompos. BSF mampu mengkonversi sampah organic hingga beberapa kali bobot tubuhnya kurang dari 24  jam. Circular Economy  dalam Prinsip Pengolahan Sampah Organik berpedoman pada prinsip mengurangi sampah dan memaksimalkan sumber daya yang ada.

PPM telah beberapa kali bertatap muka baik langsung maupun virtual dengan Direrktur Pengelolaan Sampah Direktorat Jenderal PSLB3 Bapak Novrizal Tahar. Di 2020 PPM mengadakan Musyawarah Nasional secara online dengan rekomendasi hasil MUNAS tersebut sebagai berikut :

Hasil Musyawarah Nasional

Paguyuban Pegiat Magot (PPM) Nusantara Ke I

Tahun 2020

Rekomendasi

  1. Menyarankan Direktorat Pengelolaan Sampah untuk melakukan percepatan Revisi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 13 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, Dan Recycle Melalui Bank Sampah, PPM BSF siap membantu;
  2. Percepatan dalam melaksanakan Pengolahan Sampah Organik dengan Biokonversi Magot BSF, para peserta Munas menyarankan agar Pusat Pelatihan Masyarakat dan Generasi Lingkungan Badan Pengembangan SDM dan Direktorat Pengelolaan Sampah Ditjen PSLB3 Kementerian LHK untuk memperbanyak program dan kegiatan pembinaan, pelatihan dan bimbingan teknis serta fasilitasi lainnya kepada anggota PPM Nusantara;
  3. Disarankan adanya Percontohan (Demplot) pengolahan sampah organik dengan biokonversi Magot BSF yang cukup besar dan dikelola secara professional di tiap Kabupaten/Kota atau sekurang-kurangya di tiap Provinsi.
  4. Pengolahan sampah organik dengan biokonversi BSF seyogyanya menjadi bagian dalam pembangunan BSI, PDU dan TPS3R.
  5. Menyarakankan Kementerian LHK untuk menjadi pelopor Pengolahan Sampah Organik dengan Biokonversi BSF sebagai Gerakan Nasional.
  6. Merekomendasikan adanya Peraturan atau Keputusan Bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pertahanan, Menteri Kelautan dan Perikanan, Menteri Pertanian, Menteri PUPR, serta Menteri Desa, Transmigrasi dan Daerah Tertinggal tentang Gerakan Nasional Pengolahan Sampah Organik Berbasis Masyarakat.




Kamis, 04 Februari 2021

Hulu - Hilir Olah S.O.D

Merebaknya budidaya BSF di berbagai penjuru Kota dan Desa di Indonesia didominasi oleh para peternak unggas dan aneka jenis ikan. Hal ini mengindikasikan kebutuhan pakan ternak yang demikian tingginya, meskipun begitu namun prakiraan kami jumlah para peternak yang budidaya bsf atau setidaknya mau budidaya bsf masih terbilang sedikit dibanding yang sudah budidaya bsf.

Karena kebutuhan akan pakan ternak yang tinggi, seringkali para peternak tidak memperhitungkan terkait persoalan utama dari masalah budidaya bsf yaitu pasokan s.o.d (Sampah Organik Dapur). Seringkali para pembudidaya bsf yang awalnya adalah peternak unggas dan berbagai jenis ikan hanya menargetkan hasil maggot bsf untuk pakan ternaknya. Sampai pada saat mereka bingung memberi asupan s.o.d buat maggot-maggot mereka.

Terjadi juga di level akademisi, ternyata yang banyak melakukan penelitian terhadap budidaya bsf adalah fakultas ilmu biologi dan / atau ilmu hayati. Paling jauh yang kami tahu ekonomi kehutanan.
Jadi muncul pertanyaan kenapa di ilmu lingkungan dan / atau teknik lingkungan tidak ada? Sedangkan masalah yang muncul terkait budidaya bsf adalah bagaimana mensupply s.o.d dalam kapasitas tertentu.....

Berikut kutipan whatsaap dengan Prof Agus Pakahan , sebagai akademisi sekaligus praktisi budidaya bsf :

" ......Ide yang bagus. Kita perlu membahas mulai dari: 
1. Pasar dunia. Sampai sekarang Uni Eropa belum bersedia memasukkan BSF ke dalam list yang boleh masuk dari INdonesia ke UE; 
2. Perbaikan sistem pengelolaan sampah sekarang. Fakta: proses tersulit dalam pengembangan BSF adalah kesulitan mendapatkan sampah. Banyak faktor penyebabnya. 
3. Isu Nagoya Protokol terkait dengan biodiversitas dll., yang belum jelas dalam prakteknya supaya semua berjalan win-win seperti apa; 
4. Status apakah BSF halal, makruh atau haram? Yang jelas baru dari madzhab Imam Maliki: Semua insek halal! Tanpa hal ini dibereskan lewat MUI kita akan kerepotan nanti. dll

Dari sisi sinergitas lintas dinas dan lintas kementrian atau departemen, banyak yang pesimis karena birokrasi dan komunikasi lintas birokrat. Padahal Hulu dari budidaya bsf ini adalah "Masalah Sampah" , kabar baiknya bsf mampu menyelesaikan s.o.d (setidaknya 40% dari komposisi sampah-klhk 2018- (lihat tulisan sebelumnya)). Komposisi terbesar dari total timbulan sampah, ini tugas Kemen.PUPR & KLHK di level pusat, di tingkat provinsi dan Kabupaten / Kota dinas pu dan dlh. Pertanyaannya berapa banyak dinas-dinas yang bertebaran melakukan biokonversi bsf untuk mengurangi 40% saja dari Sampah daerah masing-masing? Atau setidaknya melakukan peran aktif memfasilitasi para pegiat BSF? Baru direktorat pengelolaan sampah KLHK Dan DLH Provinsi Jawa Barat yang kami tahu berupaya untuk melakukan sosialisasi terkait menghabiskan s.o.d dengan biokonversi bsf.
Ini adalah Hulu dari kegiatan biokonversi bsf atau budidaya bsf.

Hilirnya adalah pakan ternak, setidaknya unggas adan aneka jenis ikan. Kementrian pertanian yang membawahi direktorat peternakan belum terdengar berkegiatan terkait bsf. Yang lumayan terdengar adalah kementrian kelautan dan perikanan. Mudah-mudahan ke depan semua nya bisa sinergi sehingga persoalan persampahan Kita bisa terselesaikan dengan baik meski 40% saja.


Tidak hanya persoalan persampahan yang terselesaikan, persoalan ketersediaan pakan ternak hingga kualitas asupan nutrisi berupa protein hewani dari ternak juga.....yang luar biasanya ini semua akan membuka peluang bagi wira usaha baru (WUB) yang seeing digembar - gemborkan itu.

Semoga bermanfaat.....

Minggu, 24 Januari 2021

Notulensi Audiensi PPM , DLH Jabar dan Managemen Pasar Caringin

Kadis LH Jabar (Ibu Prima)
Kolaborasi , sharing informasi, dlh siap memfasilitasi. Memperkuat pemberdayaan masyarakat, kami sangat harapkan karena hasil dari biokonversi ini bias menghasilkan. Kami dlh provinsi jabar bersama2 teman2 kab/kota bias melakukan pengurangan dengan biokonversi bsf. Hari2 belakangan ini kami kesulitab dengan anggaran karena adanya covid-19 , mudah2n teman2 pengusaha dalam hal ini pak agung (mantan ketua kadin jabar) bias memfasilitasi kegiatan2 terkait pengurangan sampah ini. Mohon maaf saya tidak bias mengikuti rapat ini hingga selesai karena ada kegiatan lain.

Ardhi (Ketua PPM)
Maping for moving forward, bagaimana kita bias lebih cepat mencapai pengurangan sampah sesuai dengan perpres no 97 tahun 2017 dan pergub no 91 tahun 2018. (paparan terlampir)
Pasar tradisional menjadi urutan ke 2 dalam timbulan sampah yaitu 24% , dan pusat perniagaan adalah 14% dengan total 38%. Menjadi menarik PPM JaBar sudah mengolaha s.o.d secara total pengurangan 27,22 ton/hari dengan hasil maggot. 

Dengan mengkhususkan diri melakukan pengolahan s.o.d secara umum, dan khusus untuk pasar tradisional dan kawasan perniagaan maka angka pengurangan adalah mendekati target dari perpres dan pergub tersebut dikisaran 25%. Utamanya adalah dampak lingkungan akan menjadi lebih baik.

Kabid LH Jabar (Pak Didi)
Kami persilahkan dari Kabupaten Ciamis yang sudah berhasil dan mendapatkan penghargaan.

Kabid Ciamis (Pak Giatno)
Selingkuh mas maggot = selamatkan lingkungan hidup masyarakat kelola bank sampah dan maggot. Merupakan terobosan baru di ciamis mulai dari 2017. Hasil dari maggot untuk pertanian, peternakan kolaborasi dengan dana desa. Yang tadinya tidak ada budidaya maggot sekarang ada 48 pembudidaya bsf.

Management Pasar Induk Caringin (Pak Yudi)
Kami memiliki kurang lebih 60ton s.o.d per hari dengan komposisi 95% organic, untuk kebutuhan maggot sangat tepat. Managemen membukan ruang untuk kerjasama dengan pegiat maggot, permasalahan kami adalah ruang yang terbatas, maka perlu identifikasi para pegiat yang dekat sekitar pasar caringin. Mengingat ke depan dengan tpa legok nangka tarif nya cukup membebani.

Kabid LH Jabar (Pak Didi)
Potensi sampah pasar caringin sangat mungkin dihabiskan dengan maggot hanya saja persoalan lahan shingga perlu dilakukan diskusi lebih lanjut terkait pegiat disekitar pasar caringin.

Pak Anang Sudarna (Pembina PPM)
Bagaimana besarnya potensi maggot sebagai solusi terdasyat sebagai solusi s.o.d, karena bias menyelesaikan persoalan ini dalam waktu kurang dari 24 jam. Ini adalah anugrah dari Allah SWT bagi kita. Ketika kami di lh jabar di 2016 sudah melakukan pelatihan dan di sarimukti sudah kita coba di 2017, sekarang tinggal dipacu oleh teman-teman di lh jabar. Kami di MIF (manglayang integrated farm) bersama dengan PPM mengembangkan nya di gunung manglayang.

Kami sudah 3 kali bertemu dengan pak agung, tujuannya “memprovokasi” pak agung untuk melakukan pengelolan, karena kedepan beban pasar induk caringin beban tiping fee akan sangat berat. Ke 2 ketika sampah organic tidak terkelola akan berdampak negative terhadap lingkungan khususnya air. Kami telah paparkan tentang potensi pengolahan s.o.d di caringin. Sisi lain kita memiliki kebutuhan akan fish mill yang selama ini import, artinya kebutuhan pasarnya cukup besar. Jika pasar caringin ingin memecahkan masalah kedepan jalan satunya adalah bsf, tidak ada yang lain. 

Karena industry maggot di dunia sudah besar. Ironisnya benyak pegiat yang kekurangan sampah (organic)

Kita bisa menjadi pilot model yang besar yang bisa dikembangkan, untuk jakstrada turunan dari jakstranas tidak ada cara lain untuk mengurangi sampah di 2025 kecuali dengan olah sampah organic, sedangkan sampah anorganik kurang dari dari itu. Sedangkan timbulan sampah dari pasar tradisional dan kawasan komersial lebih dari 30%. Saya sedang membuat konsep surat edaran Menteri LHK dengan penanganan sampah organic, karena saya masih ditugaskan oleh beliau. Kami menawarkan kepada jawa barat dan sudah dibicarakan dengan ibu kadis, sehingga akan tercapai target jakstrada dan jakstranas serta efisiensi anggaran.

Ardhi (Ketua PPM)
Sebagai informasi perkembangan bsf di Jawa Barat saya sengaja undang Ibu sari dari DKPPP Kota Bekasi dan dari DisPerIndagIn Kota Bekasi akan melaksanakan kegiatan biokonversi bsf di Kota Bekasi, saya melihat potensi besar di Purwakarta karena Bapak Dedi Mulyadi mengundang seluruh Kepala Desa sePurwakarta untuk melakukan pengelolaan sampah dari sumber dan bsf jadi salah satunya. Yang berikutnya adalah Kabupaten Bandung yang telah melaksanakan program RAKSA Desa (Rumah, Air, Kakus dan Sampah) di dalamnya ada olah sampah organic dengan bsf. Kelihatannya di 3 kabupaten kota ini akan bertambah pegiat maggot.

Pak Andono (warga kota bekasi, mantan Kadis LH Provinsi DKI Jakarta)
Insyaa Allah ini akan memberikan dampak yang besar terhadap lingkungan, dan saya telah berinteraksi dengan teman-teman ppm dengan semangat (gerakkannya) dan mempraktekkan sendiri, insyaa Allah ini akan membantu untuk mencapai Jakstranas dan Jakstrada. Di bekasi hanya dikomplek saja, namun menggerakkan 245 titik di Jakarta.

Ibu Sari (DKPPP Kota Bekasi)
Kota Bekasi sampah melimpah ruah, DKPPP sebenarnya DKPPP adalah user yang kendalanya pakan dan berkreasi untuk menjadikan  bsf sebagai alternative pakan. Saya kenal kang ardhi dari teman-teman balai pelatihan peternakan cikole lembang, di “racuni” PPM untuk mengembangkan maggot di Kota Bekasi. Terjun di bsf ini akhir tahun 2020, untuk bisa mendapatkan pakan ternak yang murah untuk ekonomi masyarakat lebih baik, bersama teman-teman PPM Bekasi. Untuk pengembangan ayam joper dan lele dengan pakan maggot, mudah-mudahan tahun ini bisa dijalankan. Kami berkomunikasi dengan dinas pasar sehingga bisa membantu yang lain. Sudah berkomunikasi dengan DLH termasuk teman-teman ppm juga dan Bappeda. Percontohan insyaa Allah di 2 lokasi pasar dari 43 pasar selebihnya di masyarakat.

Ardhi (Ketua PPM)
Berarti untuk kota bekasi, ditambahkan bobotnya untuk membantu bu sari dan pasar dalam mensukseskan programnya. 

Management Pasar Induk Caringin (Pak Yudi)
Kami dari pasar induk caringin sangat menyambut baik teman-teman ppm dan program bsf ini, kami membuka ruang sepenuhnya, apabila ada yang ingin berkerjasama bisa melalui pak 
Pak Anang sudarna (Pembina ppm) untuk merencanakan ke depan.

Pak Anang Sudarna (Pembina PPM)
Bagaimana dalam waktu ke depan merencanakan terkait road map terkait jakstrada, untuk mengadakan webminar dengan para kepala dinas kabupaten kota se jawa barat. Karena belum tentu semua mempelajari dan mengerjakan, sehingga bisa kita dorong beliau-beliau sebagai pelopor. Percontohan di berbagai titik sebagai percontohan untuk menginisiasi kabupaten kota, PPM akan membantu dan surat edaran kepada kabupaten / kota.

Yana (Ciamis)
Menambahkan, sangat baik mengumpulkan para kadis agar tidak hanya sekedar jadi follower, memberikan edaran kepada dinas-dinas lintas sector untuk sinergi. Dinas LH, Dinas Peternakan, Dinas Perikana untuk MOU saling mensukseskan.

Dadan Ramdan (Koordinator PPM JaBar)
Walaupun komunitas kami kecil tapi insyaa Allah bisa menyelesaikan persoalan sampah, sebagaimana maggot kecil-kecil tapi banyak dan ada di mana-mana sehingga bisa menyelesaikan persoalan sampah kita.

 

Selengkapnya di https://www.youtube.com/watch?v=bWp2iRwduOo&t=5813s

https://www.facebook.com/293102991510788/posts/868575570630191/ 


LANGKAH AWAL MENUJU KOLABORASI NASIONAL

LANGKAH AWAL MENUJU KOLABORASI NASIONAL Pada kesempatan audiensi bersama Wakil Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia beserta jajaran K...