Kamis, 17 September 2026

Respon Produktivitas Dan Kualitas Telur Ayam Petelur Terhadap Pemberian Pakan Berbasis Maggot BSF, S.O.D Dan Pakan Komersial



Respon Produktivitas Dan Kualitas Telur Ayam Petelur Terhadap Pemberian Pakan Berbasis Maggot BSF, S.O.D Dan Pakan Komersial

Studi pendahuluan pada 31 ekor ayam petelur CW (Cangkuang Wetan)

Muhammad Ardhi Elmeidian (Ketua Paguyuban Pegiat Maggot Nusantara)
Pelaksana     : Cholidin (Petugas Desa CW dan Anggota PPMN)
Waktu    : 35 hari (10 Agustus 2026 - 13 September 2026)
Pembina    : Asep Kusmiadi, S.Pd.I., M.Pd (Kepala Desa Cangkuang Wetan)


ABSTRAK

Penelitian ini merupakan studi pendahuluan mengenai respons produktivitas dan kualitas telur ayam petelur terhadap pemberian pakan dengan komposisi 40% pakan komersial CP51, 55% maggot segar Black Soldier Fly (BSF), 3% Sampah Organik Domestik (S.O.D.), dan 2% TT.

Penelitian dilakukan pada kelompok yang terdiri atas 31 ekor ayam petelur CW dengan pengamatan produksi telur dan karakteristik fisik telur. Hasil pengamatan menunjukkan adanya peningkatan produksi dari 13 butir telur atau 41,94% Hen Day Production (HDP) pada 11 Agustus 2026 hingga mencapai 28 butir atau 90,32% HDP pada 18 dan 23 Agustus 2026. Setelah fase peningkatan, produksi relatif stabil pada kisaran 23–25 butir per hari atau 74,19–80,65% HDP. Pengamatan fisik telur menunjukkan adanya albumen bagian dalam yang relatif kental dan jernih serta kuning telur yang relatif tidak mudah pecah pada pengujian sederhana. Pada 20 Agustus 2026 diperoleh rata-rata berat telur 55,5 gram per butir dari 20 butir telur, dengan ditemukan telur berbobot 78 gram. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan 55% maggot segar dalam formulasi pakan tidak secara langsung menghambat produksi telur pada kelompok penelitian. Namun, penelitian ini bersifat pendahuluan dan tidak menggunakan kelompok kontrol, sehingga belum dapat digunakan untuk membuktikan hubungan kausal antara formulasi pakan dan peningkatan produksi maupun kualitas telur. Penelitian lanjutan dengan kontrol, pengukuran konsumsi pakan, konversi pakan, Haugh Unit, tinggi albumen, indeks kuning telur, ketebalan dan kekuatan kerabang diperlukan untuk memperoleh kesimpulan yang lebih kuat.

Kata kunci: ayam petelur, maggot BSF, S.O.D., produktivitas telur, kualitas telur, HDP.

1.    PENDAHULUAN

Pakan merupakan salah satu komponen utama dalam pemeliharaan ayam petelur dan berhubungan erat dengan produktivitas serta biaya produksi. Ketergantungan terhadap pakan komersial menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan usaha ayam petelur, terutama ketika harga bahan baku pakan mengalami perubahan.

Maggot Black Soldier Fly (BSF) merupakan salah satu bahan alternatif yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber nutrien dalam pakan ternak. Selain menghasilkan biomassa yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan, budidaya BSF juga memiliki keterkaitan dengan pengelolaan bahan organik.

Dalam penelitian ini digunakan formulasi pakan yang mengombinasikan pakan komersial, maggot BSF segar, S.O.D (Sampah Organik Domestik)., dan TT (Tepung Tulang). Komposisi tersebut terdiri atas 40% CP51, 55% maggot segar, 3% S.O.D., dan 2% TT. Total Ransum per ekot 153 gram.

Pendekatan tersebut menarik untuk dikaji karena tingginya proporsi maggot segar dalam formulasi pakan menimbulkan pertanyaan apakah penggunaan bahan alternatif dalam jumlah besar dapat mempertahankan produktivitas ayam petelur sekaligus mempertahankan kualitas fisik telur.

Pengamatan pada kelompok 31 ekor ayam CW menunjukkan bahwa produksi meningkat selama periode penelitian. Produksi awal sebesar 13 butir atau 41,94% HDP pada 11 Agustus 2026 meningkat hingga 28 butir atau 90,32% HDP pada 18 Agustus 2026.

Temuan tersebut menjadi dasar dilakukannya analisis lebih lanjut terhadap pola produktivitas dan karakteristik telur yang dihasilkan.

2.    Tujuan Penelitian

       Penelitian ini bertujuan :

    1. Mengamati respons produksi telur ayam CW terhadap formulasi pakan berbasis maggot BSF segar, S.O.D., dan pakan komersial.
    2. Menggambarkan perubahan persentase HDP selama periode pengamatan.
    3. Mengamati karakteristik fisik dan kualitas internal telur secara deskriptif.
    4. Menilai kelayakan awal formulasi tersebut sebagai dasar penelitian lanjutan yang lebih terkontrol.

3.    METODE PENELITIAN

Lokasi dan Pelaksana Penelitian

Penelitian dilaksanakan di TPS3R Desa Cangkuang Wetan, Kecamatan Dayeuh Kolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Pelaksanaan penelitian dilakukan oleh Cholidin, yang merupakan pegawai Desa Cangkuang Wetan sekaligus anggota Paguyuban Pegiat Maggot Nusantara (PPMN). Pelaksana bertanggung jawab terhadap pemberian ransum, pengamatan kondisi ayam, pencatatan produksi telur, serta pengumpulan data lapangan.

Hewan Penelitian

Hewan yang digunakan dalam penelitian adalah 31 ekor ayam petelur CW. Jumlah ayam dipertahankan selama periode pengamatan sehingga persentase produksi telur dapat dihitung berdasarkan populasi yang sama.

Formulasi Pakan

Pakan yang digunakan merupakan kombinasi antara pakan komersial, maggot BSF segar, S.O.D., dan TT dengan komposisi :

Bahan pakan

Proporsi

CP51

40%

Maggot BSF segar

55%

S.O.D.

3%

TT

2%

Total

100%

Penggunaan maggot dalam bentuk segar menyebabkan kandungan air bahan menjadi faktor penting dalam menentukan jumlah ransum yang diberikan. Oleh karena itu, jumlah pemberian pakan tidak ditetapkan hanya berdasarkan berat bahan segar, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi ayam dan kandungan bahan kering (dry matter) dari ransum.

Jumlah Pemberian Ransum

Ransum diberikan sebanyak 153 gram/ekor/hari.

Dengan jumlah 31 ekor ayam, kebutuhan ransum teoritis kelompok Adalah : 31 ekor × 153 gram = 4.743 gram/hari atau sekitar : 4,743 kg ransum/hari.

Penetapan 153 gram/ekor/hari dimaksudkan untuk menyesuaikan kebutuhan nutrisi ayam dengan karakteristik bahan penyusun ransum, terutama karena maggot dan S.O.D. digunakan dalam kondisi segar yang mempunyai kandungan air relatif tinggi.

Dalam penelitian ini, aspek bahan kering (BK) menjadi pertimbangan penting karena berat bahan segar tidak secara langsung menggambarkan jumlah nutrien yang tersedia bagi ayam.

Dasar Penetapan Ransum

Perhitungan ransum mempertimbangkan dua aspek utama:

a.      Kebutuhan nutrisi

Jumlah ransum disesuaikan agar kombinasi CP51, maggot BSF, S.O.D., dan TT dapat memberikan nutrien yang diperlukan untuk mendukung pemeliharaan tubuh dan produksi telur.

b.      Bahan kering

Maggot BSF segar dan S.O.D. mengandung air dalam jumlah cukup tinggi. Oleh karena itu, perbandingan berdasarkan berat segar dapat memberikan interpretasi yang berbeda dibandingkan perbandingan berdasarkan bahan kering.

Pendekatan bahan kering digunakan untuk menghindari kesalahan interpretasi bahwa 1 kg bahan segar memiliki kontribusi nutrisi yang sama dengan 1 kg bahan kering.

Dengan demikian, pemberian 153 gram ransum segar/ekor/hari merupakan hasil penyesuaian antara formulasi bahan pakan, kandungan bahan kering, dan kebutuhan nutrisi ayam yang menjadi objek penelitian.

Parameter Pengamatan

Parameter penelitian meliputi :

1.      jumlah telur harian;

2.      persentase Hen Day Production (HDP);

3.      berat telur;

4.      konsumsi ransum;

5.      karakteristik albumen;

6.      karakteristik kuning telur;

7.      kondisi kerabang;

8.      pengamatan visual kualitas internal telur.

Persentase HDP dihitung menggunakan persamaan :

HDP (%) = (jumlah telur per hari / jumlah ayam) × 100

Dengan populasi 31 ekor, setiap kenaikan satu butir telur setara dengan sekitar : 1/31 × 100 = 3,23% HDP.

4.    Pengamatan Kualitas Telur

        Hasil pengujian 5 butir telur

Sampel

Berat telur (g)

Cangkang (g)

Kuning telur (g)

Putih telur* (g)

% cangkang

% kuning

1

62,9

8,9

15,7

38,3

14,15%

24,96%

2

62,9

8,2

15,7

39,0

13,04%

24,96%

3

67,9

8,6

14,1

45,2

12,67%

20,77%

4

60,0

8,0

14,2

37,8

13,33%

23,67%

5

67,7

12,1

16,5

39,1

17,87%

24,37%

Rata-rata

64,28

9,16

15,24

39,88

±14,21%

±23,75%

*Putih telur dihitung secara tidak langsung :

Berat putih = berat telur - cangkang - kuning telur

Rata-rata :

      • Berat telur                   : 64,28 g
      • Berat cangkang           : 9,16 g
      • Berat kuning               : 15,24 g
      • Estimasi berat putih    : 39,88 g
      • Proporsi cangkang      : ±14,21%
      • Proporsi kuning           : ±23,75%
      • Proporsi putih              : ±62,04%

Temuan visual Membran vitelin kuning telur dan Albumen

Kelima telur memiliki lapisan putih telur di sekitar kuning telur yang sangat kental dan dapat terlihat secara kasat mata. Selaput kuning telur kuat, dapat dicubit dan diangkat tanpa mudah pecah. Observasi ditemukan pada 5/5 sampel telur yang diuji.

"Pada seluruh lima telur yang diuji (5/5 sampel), secara visual tampak adanya lapisan albumen yang lebih kental yang mengelilingi kuning telur. Membran vitelin kuning telur juga menunjukkan kekuatan mekanis secara subjektif, ditunjukkan dengan kemampuan membran untuk dicubit dan diangkat tanpa segera mengalami kerusakan atau pecah."

Albumen yang terlihat kental memang merupakan indikasi menarik

    • "Telur menunjukkan karakteristik albumen yang secara visual tampak kental."
    • Membuktikan Haugh Unit, menambahkan pengukuran tinggi albumen (mm) dan berat telur.
    • Dengan dua data itu kita bisa menghitung Haugh Unit.

Temuan kuning telur juga menarik

Rata-rata berat kuning                        : 15,24 gram/butir

dengan proporsi rata-rata sekitar         : 23,75% dari berat telur.

Rentang berat kuning                          : 14,1–16,5 gram.

Yang menarik, telur nomor 3 memiliki berat telur paling besar kedua (67,9 g) tetapi kuning telurnya hanya 14,1 g.

Sebaliknya telur nomor 5 memiliki    :

·         telur: 67,7 g

·         kuning: 16,5 g

Jadi ukuran telur tidak selalu berbanding lurus dengan berat kuning. Ini normal untuk variasi biologis dan justru menunjukkan mengapa pengukuran beberapa telur lebih informatif daripada satu telur.

Cangkang

Rata-rata cangkang     : 9,16 gram/butir

dengan rentang            : 8,0–12,1 gram

Proporsi rata-rata        : ±14,21% berat telur.

Telur nomor 5 memiliki cangkang 12,1 g, jauh lebih tinggi dibandingkan empat sampel lainnya.

Namun, berat cangkang saja belum cukup untuk menyatakan cangkang lebih kuat.

Untuk menyebut "kerabang kuat", penelitian berikutnya sebaiknya mengukur :

·         ketebalan kerabang (mm);

·         berat kerabang;

·         atau kekuatan pecah kerabang (breaking strength).

Pengujian Kualitas Fisik Telur

Pengujian kualitas fisik dilakukan terhadap lima butir telur yang diambil dari kelompok ayam CW. Parameter yang diamati meliputi berat telur utuh, berat cangkang, berat kuning telur, serta karakteristik visual albumen dan membran kuning telur.

Berat telur dari lima sampel berkisar antara 60,0–67,9 gram dengan rata-rata 64,28 gram/butir. Berat cangkang berkisar antara 8,0–12,1 gram dengan rata-rata 9,16 gram/butir, sedangkan berat kuning telur berkisar antara 14,1–16,5 gram dengan rata-rata 15,24 gram/butir.

Berdasarkan perhitungan massa, berat putih telur secara tidak langsung berkisar antara 37,8–45,2 gram dengan rata-rata 39,88 gram/butir. Rata-rata proporsi cangkang terhadap berat telur adalah sekitar 14,21%, sedangkan proporsi kuning telur sekitar 23,75%.

Pengamatan visual menunjukkan bahwa seluruh lima sampel telur (5/5) memiliki lapisan albumen di sekitar kuning telur yang tampak sangat kental. Selain itu, membran vitelin kuning telur menunjukkan karakteristik yang relatif kuat pada pengujian sederhana, karena dapat dicubit dan diangkat tanpa segera pecah. Temuan tersebut merupakan observasi deskriptif dan belum dapat disamakan dengan pengukuran instrumental terhadap kualitas albumen atau kekuatan membran vitelin.

Tiga kelompok data dalam penelitian CW

·        Produktivitas

631 telur / 285 hari22,54 telur/hari72,7% HDP

·        Ukuran telur

Rata-rata pengujian 5 telur : 64,28 g/butir

·        Karakteristik internal telur

5/5 telur menunjukkan :

·         albumen bagian dalam sangat kental secara visual

·         membran kuning telur dapat dicubit dan diangkat tanpa segera pecah

Perhitungan Kebutuhan Ransum Kelompok

Dengan jumlah ayam 31 ekor dan pemberian 153 gram/ekor/hari :

Kebutuhan harian = 4,743 kg/hari

Kebutuhan selama 35 hari : 4,743 × 35 = 166,005 kg

Perhitungan ini dapat digunakan untuk mengevaluasi kebutuhan bahan pakan sekaligus membandingkan jumlah nutrien yang diberikan selama periode penelitian.


Sabtu, 29 Agustus 2026

PENGARUH PEMBERIAN RANSUM BERBASIS MAGGOT BLACK SOLDIER FLY (Hermetia illucens) DAN S.O.D* TERHADAP PRODUKSI TELUR AYAM PETELUR BERUMUR LEBIH DARI DUA TAHUN

 

PENGARUH PEMBERIAN RANSUM BERBASIS MAGGOT BLACK SOLDIER FLY (Hermetia illucens) DAN S.O.D* TERHADAP PRODUKSI TELUR AYAM PETELUR BERUMUR LEBIH DARI DUA TAHUN

*Sampah Organik Dapur

Studi Pendahuluan pada 16 Ekor Ayam Petelur di Desa Cangkuang Kulon, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung

Disusun oleh:

Muhammad Ardhi Elmeidian¹
¹Ketua Paguyuban Pegiat Maggot Nusantara

Bayu Kurniawan²
²Tim KKN Universitas Langlang Buana

Lokasi penelitian:
Desa Cangkuang Kulon, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengamati respons produksi telur ayam petelur berumur lebih dari dua tahun terhadap pemberian ransum berbasis maggot Black Soldier Fly (BSF), S.O.D., pakan komersial CP51, dan tepung tulang. Penelitian dilakukan terhadap 16 ekor ayam petelur dengan lama pengamatan selama 10 hari, mulai tanggal 17 sampai 26 Agustus 2026. Ransum diberikan sebanyak 160 gram per ekor per hari dengan komposisi CP51 25%, maggot BSF segar 60%, S.O.D. 10%, dan tepung tulang 5%.

Parameter utama yang diamati adalah jumlah produksi telur harian dan Hen Day Production (HDP). Selama periode pengamatan diperoleh total produksi sebanyak 88 butir telur dari potensi maksimum 160 butir telur, sehingga rata-rata HDP mencapai 55,0%. Produksi telur menunjukkan perkembangan dari 3 butir atau 18,75% pada hari pertama menjadi 12 butir atau 75,0% pada hari kesepuluh. Rata-rata HDP pada empat hari pertama sebesar 39,06%, sedangkan pada enam hari berikutnya meningkat menjadi 65,63%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ransum dengan proporsi maggot BSF segar sebesar 60% secara bobot segar dapat dikonsumsi dengan baik oleh ayam dan seluruh ransum yang diberikan habis dikonsumsi. Namun, penelitian ini masih bersifat studi pendahuluan sehingga peningkatan produksi belum dapat disimpulkan sepenuhnya sebagai akibat langsung dari perlakuan pakan. Penelitian lanjutan dengan periode pengamatan lebih panjang, pengukuran konsumsi bahan kering, bobot badan, kualitas telur, dan kelompok pembanding diperlukan untuk memperoleh kesimpulan yang lebih kuat.

Kata kunci: ayam petelur, maggot BSF, S.O.D., produksi telur, HDP, substitusi pakan.

1. PENDAHULUAN

Pakan merupakan salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan usaha ayam petelur. Ketersediaan energi, protein, asam amino, mineral, khususnya kalsium dan fosfor, serta tingkat konsumsi ransum secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi produksi dan kualitas telur.

Ketergantungan peternak terhadap pakan komersial menyebabkan biaya produksi menjadi relatif tinggi. Oleh karena itu, diperlukan bahan pakan alternatif yang dapat dimanfaatkan secara lokal dan memiliki potensi nutrisi yang baik.

Salah satu bahan yang berpotensi digunakan adalah larva Black Soldier Fly atau maggot BSF (Hermetia illucens). Maggot BSF diketahui memiliki kandungan protein dan lemak yang cukup tinggi sehingga berpotensi digunakan sebagai sumber nutrisi alternatif dalam pakan unggas. Namun, kandungan nutrisi maggot dapat berbeda-beda tergantung media pakan, umur larva, kadar air, dan proses pengolahan.

Selain maggot BSF, penelitian ini juga memanfaatkan S.O.D. sebagai salah satu komponen ransum. Kombinasi antara pakan komersial CP51, maggot BSF segar, S.O.D., dan tepung tulang diharapkan dapat menyediakan ransum yang tetap memiliki kecukupan nutrisi sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber daya lokal.

Penelitian ini menjadi menarik karena menggunakan ayam petelur yang telah berumur lebih dari dua tahun. Pada umur tersebut, secara umum produktivitas ayam tidak dapat disamakan dengan ayam yang berada pada fase puncak produksi. Oleh sebab itu, perubahan produksi telur selama perlakuan perlu diamati secara khusus.

Berdasarkan hal tersebut, dilakukan studi pendahuluan terhadap 16 ekor ayam petelur dengan pemberian ransum berbasis maggot BSF segar sebesar 60%, S.O.D. sebesar 10%, CP51 sebesar 25%, dan tepung tulang sebesar 5%.

2. TUJUAN PENELITIAN

Penelitian ini bertujuan untuk:

1.      Mengamati produksi telur harian ayam petelur berumur lebih dari dua tahun.

  1. Menghitung nilai Hen Day Production selama pemberian ransum perlakuan.
  2. Mengamati perkembangan produksi telur selama 10 hari pengujian.
  3. Mengamati tingkat penerimaan ransum oleh ayam.
  4. Menjadi dasar bagi penelitian lanjutan mengenai penggunaan maggot BSF dan S.O.D. dalam ransum ayam petelur.

3. MATERI DAN METODE

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di:

Desa Cangkuang Kulon, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung.

Periode pengamatan dilakukan selama 10 hari :

17 Agustus 2026 sampai 26 Agustus 2026.

3.2 Ternak Percobaan

Ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

·         Jumlah ayam         : 16 ekor

·         Jenis                      : ayam petelur

·         Umur                     : lebih dari 2 tahun

Ayam dipelihara dalam kondisi pemeliharaan yang sama selama periode pengamatan.

3.3 Komposisi Ransum

Ransum diberikan sebanyak   :160 gram/ekor/hari

Komposisi ransum adalah sebagai berikut:

Bahan

Persentase

Jumlah/ekor/hari

CP51

25%

40 g

Maggot BSF segar

60%

96 g

S.O.D.

10%

16 g

Tepung tulang

5%

8 g

Total

100%

160 g

Untuk seluruh populasi 16 ekor, kebutuhan ransum per hari adalah :

16 × 160 gram = 2.560 gram atau 2,56 kg/hari

Dengan komposisi:

Bahan

Kebutuhan per hari

CP51

640 g

Maggot BSF segar

1.536 g

S.O.D.

256 g

Tepung tulang

128 g

Total

2.560 g

3.4 Parameter yang Diamati

Parameter utama penelitian meliputi:

1. Produksi telur harian

Jumlah telur yang dihasilkan dicatat setiap hari.



2. Hen Day Production (HDP)

HDP dihitung menggunakan rumus    :



Karena jumlah ayam selama pengamatan sebanyak 16 ekor, maka contoh perhitungannya:

Jika menghasilkan 12 butir telur         :



3. Konsumsi ransum

Selama pengamatan, ransum yang diberikan selalu habis dikonsumsi, sehingga secara pengamatan lapangan tidak ditemukan sisa pakan harian.

4. Bobot telur

Bobot telur dicatat pada telur yang ditimbang selama pengamatan.

5. Kondisi ayam

Kondisi kesehatan dan nafsu makan ayam diamati secara visual.

4. HASIL PENELITIAN

4.1 Produksi Telur Harian

Hasil pencatatan produksi telur selama 10 hari adalah sebagai berikut:

Hari

Tanggal

Produksi Telur

HDP

1

17/08/2026

3

18,75%

2

18/08/2026

8

50,00%

3

19/08/2026

8

50,00%

4

20/08/2026

6

37,50%

5

21/08/2026

11

68,75%

6

22/08/2026

11

68,75%

7

23/08/2026

8

50,00%

8

24/08/2026

10

62,50%

9

25/08/2026

11

68,75%

10

26/08/2026

12

75,00%

Total

10 hari

88 butir

55,00% rata-rata

4.2 Perhitungan Produksi Kumulatif

Potensi produksi maksimum selama 10 hari  : 16 ekor × 10 hari = 160 butir

Produksi actual                                               : 88 butir

Sehingga rata-rata HDP                                  :



Dengan demikian, selama periode penelitian diperoleh:

Total produksi      : 88 butir

Rata-rata HDP     : 55%

5. ANALISIS PERKEMBANGAN PRODUKSI

Untuk melihat perubahan selama penelitian, data dapat dibagi menjadi dua periode.

Periode awal  : Hari ke-1 sampai ke-4

Produksi                      : 3 + 8 + 8 + 6 = 25 butir

Potensi produksi         : 16 × 4 = 64

HDP rata-rata              :



Rata-rata HDP periode awal: 39,06%

Periode berikutnya: Hari ke-5 sampai ke-10

Produksi                      : 11 + 11 + 8 + 10 + 11 + 12 = 63 butir

Potensi produksi         : 16 × 6 = 96

HDP                            :




Rata-rata HDP hari ke-5 sampai ke-10: 65,63%

Ringkasan Perubahan Produksi

Periode

Total Telur

Rata-rata HDP

Hari 1–4

25

39,06%

Hari 5–10

63

65,63%

Keseluruhan

88

55,00%

Hari ke-10

12

75,00%

Terlihat adanya peningkatan produksi dari periode awal ke periode berikutnya.

Perbandingan rata-rata HDP                                       : 39,06% → 65,63%

Terjadi peningkatan sebesar                                       : 26,57 poin persentase

Sedangkan produksi pada hari pertama hanya           : 18,75% HDP

dan pada hari kesepuluh mencapai                             : 75% HDP

6. KONDISI AYAM SELAMA PENGUJIAN

Pada hari ketiga pengamatan sebelumnya tercatat adanya satu ekor ayam yang terlihat kurang sehat dan mengalami penurunan nafsu makan. Kondisi tersebut kemudian membaik.

Perubahan kondisi individu ayam tersebut perlu dicatat karena jumlah populasi penelitian relatif kecil, yaitu hanya 16 ekor. Pada populasi kecil, perubahan produksi satu atau beberapa ekor ayam dapat memberikan pengaruh cukup besar terhadap persentase HDP harian.

Contohnya:

Satu ekor ayam dari total 16 ekor setara dengan : 116×100=6,25%\frac{1}{16}\times100=6,25\%

Artinya, perubahan produksi hanya satu ekor ayam dapat mengubah HDP sebesar 6,25 poin persentase.

Oleh karena itu, fluktuasi harian dalam penelitian ini perlu dibaca secara hati-hati.

7. PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi telur ayam mengalami fluktuasi selama periode pengamatan. Pada empat hari pertama, rata-rata HDP sebesar 39,06%. Selanjutnya, pada hari ke-5 sampai hari ke-10, rata-rata HDP meningkat menjadi 65,63%.

Peningkatan tersebut menunjukkan adanya kecenderungan respons produksi yang positif selama periode pemberian ransum. Namun demikian, hasil ini belum cukup untuk menyatakan hubungan sebab-akibat secara mutlak antara komposisi pakan dan peningkatan produksi telur.

Hal ini disebabkan oleh beberapa factor :

Pertama, umur ayam.

Ayam yang digunakan telah berumur lebih dari dua tahun. Kondisi fisiologis ayam kemungkinan berbeda dengan ayam petelur yang berada pada fase produksi puncak.

Kedua, lama penelitian.

Periode pengamatan hanya berlangsung selama 10 hari. Produksi telur memiliki variasi harian sehingga diperlukan pengamatan lebih panjang untuk mengetahui apakah HDP 65–75% dapat dipertahankan secara stabil.

Ketiga, belum terdapat kelompok kontrol.

Penelitian ini belum menggunakan kelompok ayam dengan pakan standar sebagai pembanding. Oleh karena itu, penelitian lanjutan sebaiknya menggunakan kelompok kontrol.

7.1 Penerimaan Ransum

Salah satu temuan lapangan yang penting adalah bahwa ransum yang diberikan selalu habis dikonsumsi.

Hal ini menunjukkan bahwa secara palatabilitas, kombinasi:

  • 25% CP51,
  • 60% maggot BSF segar,
  • 10% S.O.D.,

·         5% tepung tulang,

dapat diterima oleh ayam yang digunakan dalam penelitian.

Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa :

60% maggot segar berdasarkan bobot ransum tidak sama dengan 60% maggot berdasarkan bahan kering.

Karena maggot segar dan S.O.D. mengandung air, maka evaluasi nutrisi yang lebih akurat pada penelitian lanjutan sebaiknya menggunakan pendekatan bahan kering (dry matter).

7.2 Makna HDP 55%

Jika hanya melihat angka rata-rata keseluruhan, hasil penelitian menghasilkan HDP sebesar 55%.

Namun, angka tersebut perlu dibaca bersama dengan perkembangan waktu. Rata-rata 55% merupakan gabungan antara produksi yang sangat rendah pada awal pengamatan dan peningkatan produksi pada hari-hari berikutnya.

Karena itu, dua informasi berikut sama-sama penting:

  • Rata-rata keseluruhan: 55%
  • Rata-rata hari ke-5 sampai ke-10: 65,63%

Selain itu, produksi tertinggi pada penelitian ini terjadi pada hari ke-10, yaitu:

12 butir atau 75% HDP

Hasil tersebut menjadi dasar yang cukup kuat untuk melanjutkan penelitian dengan periode pengamatan lebih panjang.

8. KETERBATASAN PENELITIAN

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan:

  1. Jumlah ayam relatif sedikit, yaitu 16 ekor.
  2. Lama penelitian hanya 10 hari.
  3. Tidak terdapat kelompok kontrol dengan ransum standar.
  4. Konsumsi pakan dicatat berdasarkan ransum yang habis, tetapi belum dilakukan pengukuran konsumsi bahan kering secara individual.
  5. Bobot telur belum ditimbang secara lengkap setiap hari.
  6. Kualitas internal telur belum diuji secara laboratorium.
  7. Nilai Haugh Unit belum diukur.
  8. Komposisi nutrisi aktual ransum belum seluruhnya diuji melalui analisis laboratorium.

Keterbatasan tersebut tidak menghilangkan nilai hasil penelitian, tetapi membatasi tingkat kesimpulan yang dapat diambil.

9. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian selama 10 hari terhadap 16 ekor ayam petelur berumur lebih dari dua tahun, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Pemberian ransum sebanyak 160 gram/ekor/hari dengan komposisi 25% CP51, 60% maggot BSF segar, 10% S.O.D., dan 5% tepung tulang dapat diterima dengan baik oleh ayam, ditunjukkan dengan ransum yang habis dikonsumsi.
  2. Total produksi telur selama 10 hari mencapai 88 butir dari potensi maksimum 160 butir.
  3. Rata-rata Hen Day Production selama periode penelitian adalah 55%.
  4. Produksi telur menunjukkan kecenderungan meningkat dari 18,75% HDP pada hari pertama menjadi 75% pada hari kesepuluh.
  5. Rata-rata HDP pada hari ke-1 sampai ke-4 sebesar 39,06%, sedangkan rata-rata HDP pada hari ke-5 sampai ke-10 meningkat menjadi 65,63%.
  6. Hasil penelitian menunjukkan adanya indikasi respons produksi yang positif selama pemberian ransum perlakuan, tetapi belum dapat digunakan untuk menyimpulkan secara definitif bahwa peningkatan produksi semata-mata disebabkan oleh maggot BSF dan S.O.D.

10. SARAN PENELITIAN LANJUTAN

Penelitian lanjutan sebaiknya dilakukan selama minimal 30 hari, dan lebih baik lagi 60–90 hari, dengan parameter tambahan:

Produksi

  • Jumlah telur harian
  • HDP harian
  • HDP mingguan
  • Produksi kumulatif

Pakan

  • Ransum diberikan
  • Sisa pakan
  • Konsumsi aktual
  • Konsumsi bahan kering
  • Konversi pakan

Kondisi ayam

  • Bobot badan awal
  • Bobot badan mingguan
  • Kondisi kesehatan
  • Mortalitas

Kualitas telur

  • Bobot telur individual
  • Tebal cangkang
  • Persentase cangkang
  • Tinggi albumen
  • Haugh Unit
  • Indeks kuning telur
  • Warna kuning telur

Rancangan penelitian

Untuk mendapatkan hasil yang lebih kuat, penelitian dapat dibuat dengan tiga kelompok:

Kelompok

Komposisi

Kontrol

100% pakan standar/CP51

Perlakuan 1

Substitusi maggot + S.O.D. tingkat sedang

Perlakuan 2

Komposisi seperti CK–UNLA atau variasi substitusi lebih tinggi

Dengan rancangan tersebut, penelitian berikutnya dapat menjawab pertanyaan yang lebih penting:

Apakah peningkatan produksi telur benar-benar disebabkan oleh perlakuan ransum berbasis maggot BSF dan S.O.D., dan berapa tingkat substitusi yang paling optimal secara nutrisi maupun ekonomi?

DAFTAR PUSTAKA AWAL

Wardhana, A. H. 2016. Black Soldier Fly (Hermetia illucens) sebagai Sumber Protein Alternatif untuk Pakan Ternak. Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor.

 









Respon Produktivitas Dan Kualitas Telur Ayam Petelur Terhadap Pemberian Pakan Berbasis Maggot BSF, S.O.D Dan Pakan Komersial

Respon Produktivitas Dan Kualitas Telur Ayam Petelur Terhadap Pemberian Pakan Berbasis Maggot BSF, S.O.D Dan Pakan Komersial Studi pendahulu...