PENGARUH PEMBERIAN RANSUM BERBASIS MAGGOT BLACK SOLDIER FLY (Hermetia
illucens) DAN S.O.D* TERHADAP PRODUKSI TELUR AYAM PETELUR BERUMUR LEBIH
DARI DUA TAHUN
*Sampah Organik Dapur
Studi Pendahuluan pada 16
Ekor Ayam Petelur di Desa Cangkuang Kulon, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten
Bandung
Disusun oleh:
Muhammad
Ardhi Elmeidian¹
¹Ketua Paguyuban Pegiat Maggot Nusantara
Bayu
Kurniawan²
²Tim KKN Universitas Langlang Buana
Lokasi penelitian:
Desa Cangkuang Kulon, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengamati respons produksi telur ayam
petelur berumur lebih dari dua tahun terhadap pemberian ransum berbasis maggot Black
Soldier Fly (BSF), S.O.D., pakan komersial CP51, dan tepung tulang.
Penelitian dilakukan terhadap 16 ekor ayam petelur dengan lama pengamatan
selama 10 hari, mulai tanggal 17 sampai 26 Agustus 2026. Ransum diberikan
sebanyak 160 gram per ekor per hari dengan komposisi CP51 25%, maggot BSF segar
60%, S.O.D. 10%, dan tepung tulang 5%.
Parameter utama yang diamati adalah jumlah produksi telur harian dan Hen
Day Production (HDP). Selama periode pengamatan diperoleh total produksi
sebanyak 88 butir telur dari potensi maksimum 160 butir telur, sehingga
rata-rata HDP mencapai 55,0%. Produksi telur menunjukkan perkembangan dari 3
butir atau 18,75% pada hari pertama menjadi 12 butir atau 75,0% pada hari
kesepuluh. Rata-rata HDP pada empat hari pertama sebesar 39,06%, sedangkan pada
enam hari berikutnya meningkat menjadi 65,63%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ransum dengan proporsi maggot BSF
segar sebesar 60% secara bobot segar dapat dikonsumsi dengan baik oleh ayam dan
seluruh ransum yang diberikan habis dikonsumsi. Namun, penelitian ini masih
bersifat studi pendahuluan sehingga peningkatan produksi belum dapat disimpulkan
sepenuhnya sebagai akibat langsung dari perlakuan pakan. Penelitian lanjutan
dengan periode pengamatan lebih panjang, pengukuran konsumsi bahan kering,
bobot badan, kualitas telur, dan kelompok pembanding diperlukan untuk
memperoleh kesimpulan yang lebih kuat.
Kata kunci: ayam petelur, maggot BSF, S.O.D., produksi telur, HDP, substitusi
pakan.
1.
PENDAHULUAN
Pakan merupakan salah satu faktor utama yang
menentukan keberhasilan usaha ayam petelur. Ketersediaan energi, protein, asam
amino, mineral, khususnya kalsium dan fosfor, serta tingkat konsumsi ransum
secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi produksi dan kualitas telur.
Ketergantungan peternak terhadap pakan
komersial menyebabkan biaya produksi menjadi relatif tinggi. Oleh karena itu,
diperlukan bahan pakan alternatif yang dapat dimanfaatkan secara lokal dan
memiliki potensi nutrisi yang baik.
Salah satu bahan yang berpotensi digunakan
adalah larva Black Soldier Fly atau maggot BSF (Hermetia illucens).
Maggot BSF diketahui memiliki kandungan protein dan lemak yang cukup tinggi
sehingga berpotensi digunakan sebagai sumber nutrisi alternatif dalam pakan
unggas. Namun, kandungan nutrisi maggot dapat berbeda-beda tergantung media
pakan, umur larva, kadar air, dan proses pengolahan.
Selain maggot BSF, penelitian ini juga
memanfaatkan S.O.D. sebagai salah satu komponen ransum. Kombinasi antara pakan
komersial CP51, maggot BSF segar, S.O.D., dan tepung tulang diharapkan dapat
menyediakan ransum yang tetap memiliki kecukupan nutrisi sekaligus meningkatkan
pemanfaatan sumber daya lokal.
Penelitian ini menjadi menarik karena
menggunakan ayam petelur yang telah berumur lebih dari dua tahun. Pada
umur tersebut, secara umum produktivitas ayam tidak dapat disamakan dengan ayam
yang berada pada fase puncak produksi. Oleh sebab itu, perubahan produksi telur
selama perlakuan perlu diamati secara khusus.
Berdasarkan hal tersebut, dilakukan studi
pendahuluan terhadap 16 ekor ayam petelur dengan pemberian ransum berbasis maggot
BSF segar sebesar 60%, S.O.D. sebesar 10%, CP51 sebesar 25%, dan tepung tulang
sebesar 5%.
2.
TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk:
1.
Mengamati produksi telur harian ayam petelur berumur lebih dari dua tahun.
- Menghitung
nilai Hen Day Production selama pemberian ransum perlakuan.
- Mengamati
perkembangan produksi telur selama 10 hari pengujian.
- Mengamati
tingkat penerimaan ransum oleh ayam.
- Menjadi
dasar bagi penelitian lanjutan mengenai penggunaan maggot BSF dan S.O.D.
dalam ransum ayam petelur.
3. MATERI DAN METODE
3.1 Lokasi dan Waktu
Penelitian
Penelitian dilaksanakan di:
Desa Cangkuang Kulon,
Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung.
Periode pengamatan
dilakukan selama 10 hari :
17 Agustus 2026 sampai 26
Agustus 2026.
3.2
Ternak Percobaan
Ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
·
Jumlah ayam : 16 ekor
·
Jenis : ayam
petelur
·
Umur : lebih
dari 2 tahun
Ayam dipelihara dalam kondisi pemeliharaan yang sama selama periode
pengamatan.
3.3
Komposisi Ransum
Ransum diberikan sebanyak :160 gram/ekor/hari
Komposisi ransum adalah
sebagai berikut:
|
Bahan |
Persentase |
Jumlah/ekor/hari |
|
CP51 |
25% |
40 g |
|
Maggot
BSF segar |
60% |
96 g |
|
S.O.D. |
10% |
16 g |
|
Tepung
tulang |
5% |
8 g |
|
Total |
100% |
160 g |
Untuk seluruh populasi 16 ekor, kebutuhan ransum per hari adalah :
16 × 160 gram = 2.560 gram atau 2,56 kg/hari
Dengan komposisi:
|
Bahan |
Kebutuhan per hari |
|
CP51 |
640 g |
|
Maggot
BSF segar |
1.536 g |
|
S.O.D. |
256 g |
|
Tepung
tulang |
128 g |
|
Total |
2.560 g |
3.4
Parameter yang Diamati
Parameter utama penelitian
meliputi:
1.
Produksi telur harian
Jumlah telur yang
dihasilkan dicatat setiap hari.
2. Hen
Day Production (HDP)
HDP dihitung menggunakan rumus :
Karena jumlah ayam selama
pengamatan sebanyak 16 ekor, maka contoh perhitungannya:
Jika menghasilkan 12 butir telur :
3. Konsumsi ransum
Selama pengamatan, ransum yang diberikan selalu habis dikonsumsi,
sehingga secara pengamatan lapangan tidak ditemukan sisa pakan harian.
4. Bobot telur
Bobot telur dicatat pada telur yang ditimbang selama pengamatan.
5. Kondisi ayam
Kondisi kesehatan dan nafsu makan ayam diamati secara visual.
4.
HASIL PENELITIAN
4.1
Produksi Telur Harian
Hasil pencatatan produksi
telur selama 10 hari adalah sebagai berikut:
|
Hari |
Tanggal |
Produksi Telur |
HDP |
|
1 |
17/08/2026 |
3 |
18,75% |
|
2 |
18/08/2026 |
8 |
50,00% |
|
3 |
19/08/2026 |
8 |
50,00% |
|
4 |
20/08/2026 |
6 |
37,50% |
|
5 |
21/08/2026 |
11 |
68,75% |
|
6 |
22/08/2026 |
11 |
68,75% |
|
7 |
23/08/2026 |
8 |
50,00% |
|
8 |
24/08/2026 |
10 |
62,50% |
|
9 |
25/08/2026 |
11 |
68,75% |
|
10 |
26/08/2026 |
12 |
75,00% |
|
Total |
10 hari |
88 butir |
55,00% rata-rata |
4.2 Perhitungan Produksi Kumulatif
Potensi produksi maksimum
selama 10 hari : 16 ekor × 10 hari
= 160 butir
Produksi actual : 88 butir
Sehingga rata-rata HDP :
Dengan demikian, selama
periode penelitian diperoleh:
Total
produksi : 88 butir
Rata-rata
HDP : 55%
5.
ANALISIS PERKEMBANGAN PRODUKSI
Untuk melihat perubahan selama penelitian, data dapat dibagi menjadi dua
periode.
Periode awal : Hari ke-1 sampai ke-4
Produksi : 3 + 8 + 8 + 6 = 25 butir
Potensi produksi : 16 × 4 = 64
HDP rata-rata :
Rata-rata HDP periode awal:
39,06%
Periode berikutnya: Hari
ke-5 sampai ke-10
Produksi : 11
+ 11 + 8 + 10 + 11 + 12 = 63 butir
Potensi produksi : 16 × 6 =
96
HDP :
Rata-rata HDP hari ke-5
sampai ke-10: 65,63%
Ringkasan Perubahan
Produksi
|
Periode |
Total Telur |
Rata-rata HDP |
|
Hari
1–4 |
25 |
39,06% |
|
Hari
5–10 |
63 |
65,63% |
|
Keseluruhan |
88 |
55,00% |
|
Hari
ke-10 |
12 |
75,00% |
Terlihat adanya peningkatan produksi dari periode awal ke periode
berikutnya.
Perbandingan rata-rata HDP :
39,06% → 65,63%
Terjadi peningkatan sebesar :
26,57 poin persentase
Sedangkan produksi pada hari pertama hanya : 18,75% HDP
dan pada hari kesepuluh mencapai :
75% HDP
6.
KONDISI AYAM SELAMA PENGUJIAN
Pada hari ketiga pengamatan sebelumnya tercatat adanya satu ekor ayam
yang terlihat kurang sehat dan mengalami penurunan nafsu makan. Kondisi
tersebut kemudian membaik.
Perubahan kondisi individu ayam tersebut perlu dicatat karena jumlah
populasi penelitian relatif kecil, yaitu hanya 16 ekor. Pada populasi kecil,
perubahan produksi satu atau beberapa ekor ayam dapat memberikan pengaruh cukup
besar terhadap persentase HDP harian.
Contohnya:
Satu ekor ayam dari total
16 ekor setara dengan : 116×100=6,25%\frac{1}{16}\times100=6,25\%
Artinya, perubahan produksi hanya satu ekor ayam dapat mengubah HDP
sebesar 6,25 poin persentase.
Oleh karena itu, fluktuasi harian dalam penelitian ini perlu dibaca
secara hati-hati.
7.
PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi telur ayam mengalami
fluktuasi selama periode pengamatan. Pada empat hari pertama, rata-rata HDP
sebesar 39,06%. Selanjutnya, pada hari ke-5 sampai hari ke-10, rata-rata HDP
meningkat menjadi 65,63%.
Peningkatan tersebut menunjukkan adanya kecenderungan respons produksi
yang positif selama periode pemberian ransum. Namun demikian, hasil ini belum
cukup untuk menyatakan hubungan sebab-akibat secara mutlak antara komposisi
pakan dan peningkatan produksi telur.
Hal ini disebabkan oleh beberapa factor :
Pertama, umur ayam.
Ayam yang
digunakan telah berumur lebih dari dua tahun. Kondisi fisiologis ayam
kemungkinan berbeda dengan ayam petelur yang berada pada fase produksi puncak.
Kedua, lama penelitian.
Periode
pengamatan hanya berlangsung selama 10 hari. Produksi telur memiliki variasi
harian sehingga diperlukan pengamatan lebih panjang untuk mengetahui apakah HDP
65–75% dapat dipertahankan secara stabil.
Ketiga, belum terdapat kelompok kontrol.
Penelitian
ini belum menggunakan kelompok ayam dengan pakan standar sebagai pembanding.
Oleh karena itu, penelitian lanjutan sebaiknya menggunakan kelompok kontrol.
7.1 Penerimaan Ransum
Salah satu temuan lapangan yang penting adalah bahwa ransum yang
diberikan selalu habis dikonsumsi.
Hal ini menunjukkan bahwa secara palatabilitas, kombinasi:
- 25%
CP51,
- 60%
maggot BSF segar,
- 10%
S.O.D.,
·
5% tepung tulang,
dapat
diterima oleh ayam yang digunakan dalam penelitian.
Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa :
60% maggot segar berdasarkan bobot ransum tidak sama dengan 60% maggot
berdasarkan bahan kering.
Karena maggot segar dan S.O.D. mengandung air, maka evaluasi nutrisi
yang lebih akurat pada penelitian lanjutan sebaiknya menggunakan pendekatan bahan
kering (dry matter).
7.2 Makna HDP 55%
Jika hanya melihat angka rata-rata keseluruhan, hasil penelitian
menghasilkan HDP sebesar 55%.
Namun, angka tersebut perlu dibaca bersama dengan perkembangan waktu.
Rata-rata 55% merupakan gabungan antara produksi yang sangat rendah pada awal
pengamatan dan peningkatan produksi pada hari-hari berikutnya.
Karena itu, dua informasi berikut sama-sama penting:
- Rata-rata
keseluruhan: 55%
- Rata-rata
hari ke-5 sampai ke-10: 65,63%
Selain itu, produksi tertinggi pada penelitian ini terjadi pada hari
ke-10, yaitu:
12 butir atau 75% HDP
Hasil tersebut menjadi dasar yang cukup kuat untuk melanjutkan
penelitian dengan periode pengamatan lebih panjang.
8.
KETERBATASAN PENELITIAN
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan:
- Jumlah
ayam relatif sedikit, yaitu 16 ekor.
- Lama
penelitian hanya 10 hari.
- Tidak
terdapat kelompok kontrol dengan ransum standar.
- Konsumsi
pakan dicatat berdasarkan ransum yang habis, tetapi belum dilakukan pengukuran
konsumsi bahan kering secara individual.
- Bobot
telur belum ditimbang secara lengkap setiap hari.
- Kualitas
internal telur belum diuji secara laboratorium.
- Nilai
Haugh Unit belum diukur.
- Komposisi
nutrisi aktual ransum belum seluruhnya diuji melalui analisis
laboratorium.
Keterbatasan tersebut tidak menghilangkan nilai hasil penelitian, tetapi
membatasi tingkat kesimpulan yang dapat diambil.
9.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian selama 10 hari terhadap 16 ekor ayam
petelur berumur lebih dari dua tahun, dapat disimpulkan bahwa:
- Pemberian
ransum sebanyak 160 gram/ekor/hari dengan komposisi 25% CP51,
60% maggot BSF segar, 10% S.O.D., dan 5% tepung tulang dapat diterima
dengan baik oleh ayam, ditunjukkan dengan ransum yang habis dikonsumsi.
- Total
produksi telur selama 10 hari mencapai 88 butir dari potensi
maksimum 160 butir.
- Rata-rata
Hen Day Production selama periode penelitian adalah 55%.
- Produksi
telur menunjukkan kecenderungan meningkat dari 18,75% HDP pada hari
pertama menjadi 75% pada hari kesepuluh.
- Rata-rata
HDP pada hari ke-1 sampai ke-4 sebesar 39,06%, sedangkan rata-rata
HDP pada hari ke-5 sampai ke-10 meningkat menjadi 65,63%.
- Hasil
penelitian menunjukkan adanya indikasi respons produksi yang positif
selama pemberian ransum perlakuan, tetapi belum dapat digunakan untuk
menyimpulkan secara definitif bahwa peningkatan produksi semata-mata
disebabkan oleh maggot BSF dan S.O.D.
10.
SARAN PENELITIAN LANJUTAN
Penelitian lanjutan sebaiknya dilakukan selama minimal 30 hari,
dan lebih baik lagi 60–90 hari, dengan parameter tambahan:
Produksi
- Jumlah
telur harian
- HDP
harian
- HDP
mingguan
- Produksi
kumulatif
Pakan
- Ransum
diberikan
- Sisa
pakan
- Konsumsi
aktual
- Konsumsi
bahan kering
- Konversi
pakan
Kondisi ayam
- Bobot
badan awal
- Bobot
badan mingguan
- Kondisi
kesehatan
- Mortalitas
Kualitas telur
- Bobot
telur individual
- Tebal
cangkang
- Persentase
cangkang
- Tinggi
albumen
- Haugh
Unit
- Indeks
kuning telur
- Warna
kuning telur
Rancangan penelitian
Untuk mendapatkan hasil yang lebih kuat, penelitian dapat dibuat dengan
tiga kelompok:
|
Kelompok |
Komposisi |
|
Kontrol |
100%
pakan standar/CP51 |
|
Perlakuan
1 |
Substitusi
maggot + S.O.D. tingkat sedang |
|
Perlakuan
2 |
Komposisi
seperti CK–UNLA atau variasi substitusi lebih tinggi |
Dengan rancangan tersebut, penelitian berikutnya dapat menjawab
pertanyaan yang lebih penting:
Apakah peningkatan produksi telur benar-benar disebabkan oleh perlakuan
ransum berbasis maggot BSF dan S.O.D., dan berapa tingkat substitusi yang
paling optimal secara nutrisi maupun ekonomi?
DAFTAR PUSTAKA AWAL
Wardhana, A. H. 2016. Black Soldier Fly (Hermetia illucens)
sebagai Sumber Protein Alternatif untuk Pakan Ternak. Balai Besar
Penelitian Veteriner, Bogor.





