Kamis, 17 September 2026

Respon Produktivitas Dan Kualitas Telur Ayam Petelur Terhadap Pemberian Pakan Berbasis Maggot BSF, S.O.D Dan Pakan Komersial



Respon Produktivitas Dan Kualitas Telur Ayam Petelur Terhadap Pemberian Pakan Berbasis Maggot BSF, S.O.D Dan Pakan Komersial

Studi pendahuluan pada 31 ekor ayam petelur CW (Cangkuang Wetan)

Muhammad Ardhi Elmeidian (Ketua Paguyuban Pegiat Maggot Nusantara)
Pelaksana     : Cholidin (Petugas Desa CW dan Anggota PPMN)
Waktu    : 35 hari (10 Agustus 2026 - 13 September 2026)
Pembina    : Asep Kusmiadi, S.Pd.I., M.Pd (Kepala Desa Cangkuang Wetan)


ABSTRAK

Penelitian ini merupakan studi pendahuluan mengenai respons produktivitas dan kualitas telur ayam petelur terhadap pemberian pakan dengan komposisi 40% pakan komersial CP51, 55% maggot segar Black Soldier Fly (BSF), 3% Sampah Organik Domestik (S.O.D.), dan 2% TT.

Penelitian dilakukan pada kelompok yang terdiri atas 31 ekor ayam petelur CW dengan pengamatan produksi telur dan karakteristik fisik telur. Hasil pengamatan menunjukkan adanya peningkatan produksi dari 13 butir telur atau 41,94% Hen Day Production (HDP) pada 11 Agustus 2026 hingga mencapai 28 butir atau 90,32% HDP pada 18 dan 23 Agustus 2026. Setelah fase peningkatan, produksi relatif stabil pada kisaran 23–25 butir per hari atau 74,19–80,65% HDP. Pengamatan fisik telur menunjukkan adanya albumen bagian dalam yang relatif kental dan jernih serta kuning telur yang relatif tidak mudah pecah pada pengujian sederhana. Pada 20 Agustus 2026 diperoleh rata-rata berat telur 55,5 gram per butir dari 20 butir telur, dengan ditemukan telur berbobot 78 gram. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan 55% maggot segar dalam formulasi pakan tidak secara langsung menghambat produksi telur pada kelompok penelitian. Namun, penelitian ini bersifat pendahuluan dan tidak menggunakan kelompok kontrol, sehingga belum dapat digunakan untuk membuktikan hubungan kausal antara formulasi pakan dan peningkatan produksi maupun kualitas telur. Penelitian lanjutan dengan kontrol, pengukuran konsumsi pakan, konversi pakan, Haugh Unit, tinggi albumen, indeks kuning telur, ketebalan dan kekuatan kerabang diperlukan untuk memperoleh kesimpulan yang lebih kuat.

Kata kunci: ayam petelur, maggot BSF, S.O.D., produktivitas telur, kualitas telur, HDP.

1.    PENDAHULUAN

Pakan merupakan salah satu komponen utama dalam pemeliharaan ayam petelur dan berhubungan erat dengan produktivitas serta biaya produksi. Ketergantungan terhadap pakan komersial menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan usaha ayam petelur, terutama ketika harga bahan baku pakan mengalami perubahan.

Maggot Black Soldier Fly (BSF) merupakan salah satu bahan alternatif yang berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber nutrien dalam pakan ternak. Selain menghasilkan biomassa yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan, budidaya BSF juga memiliki keterkaitan dengan pengelolaan bahan organik.

Dalam penelitian ini digunakan formulasi pakan yang mengombinasikan pakan komersial, maggot BSF segar, S.O.D (Sampah Organik Domestik)., dan TT (Tepung Tulang). Komposisi tersebut terdiri atas 40% CP51, 55% maggot segar, 3% S.O.D., dan 2% TT. Total Ransum per ekot 153 gram.

Pendekatan tersebut menarik untuk dikaji karena tingginya proporsi maggot segar dalam formulasi pakan menimbulkan pertanyaan apakah penggunaan bahan alternatif dalam jumlah besar dapat mempertahankan produktivitas ayam petelur sekaligus mempertahankan kualitas fisik telur.

Pengamatan pada kelompok 31 ekor ayam CW menunjukkan bahwa produksi meningkat selama periode penelitian. Produksi awal sebesar 13 butir atau 41,94% HDP pada 11 Agustus 2026 meningkat hingga 28 butir atau 90,32% HDP pada 18 Agustus 2026.

Temuan tersebut menjadi dasar dilakukannya analisis lebih lanjut terhadap pola produktivitas dan karakteristik telur yang dihasilkan.

2.    Tujuan Penelitian

       Penelitian ini bertujuan :

    1. Mengamati respons produksi telur ayam CW terhadap formulasi pakan berbasis maggot BSF segar, S.O.D., dan pakan komersial.
    2. Menggambarkan perubahan persentase HDP selama periode pengamatan.
    3. Mengamati karakteristik fisik dan kualitas internal telur secara deskriptif.
    4. Menilai kelayakan awal formulasi tersebut sebagai dasar penelitian lanjutan yang lebih terkontrol.

3.    METODE PENELITIAN

Lokasi dan Pelaksana Penelitian

Penelitian dilaksanakan di TPS3R Desa Cangkuang Wetan, Kecamatan Dayeuh Kolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Pelaksanaan penelitian dilakukan oleh Cholidin, yang merupakan pegawai Desa Cangkuang Wetan sekaligus anggota Paguyuban Pegiat Maggot Nusantara (PPMN). Pelaksana bertanggung jawab terhadap pemberian ransum, pengamatan kondisi ayam, pencatatan produksi telur, serta pengumpulan data lapangan.

Hewan Penelitian

Hewan yang digunakan dalam penelitian adalah 31 ekor ayam petelur CW. Jumlah ayam dipertahankan selama periode pengamatan sehingga persentase produksi telur dapat dihitung berdasarkan populasi yang sama.

Formulasi Pakan

Pakan yang digunakan merupakan kombinasi antara pakan komersial, maggot BSF segar, S.O.D., dan TT dengan komposisi :

Bahan pakan

Proporsi

CP51

40%

Maggot BSF segar

55%

S.O.D.

3%

TT

2%

Total

100%

Penggunaan maggot dalam bentuk segar menyebabkan kandungan air bahan menjadi faktor penting dalam menentukan jumlah ransum yang diberikan. Oleh karena itu, jumlah pemberian pakan tidak ditetapkan hanya berdasarkan berat bahan segar, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi ayam dan kandungan bahan kering (dry matter) dari ransum.

Jumlah Pemberian Ransum

Ransum diberikan sebanyak 153 gram/ekor/hari.

Dengan jumlah 31 ekor ayam, kebutuhan ransum teoritis kelompok Adalah : 31 ekor × 153 gram = 4.743 gram/hari atau sekitar : 4,743 kg ransum/hari.

Penetapan 153 gram/ekor/hari dimaksudkan untuk menyesuaikan kebutuhan nutrisi ayam dengan karakteristik bahan penyusun ransum, terutama karena maggot dan S.O.D. digunakan dalam kondisi segar yang mempunyai kandungan air relatif tinggi.

Dalam penelitian ini, aspek bahan kering (BK) menjadi pertimbangan penting karena berat bahan segar tidak secara langsung menggambarkan jumlah nutrien yang tersedia bagi ayam.

Dasar Penetapan Ransum

Perhitungan ransum mempertimbangkan dua aspek utama:

a.      Kebutuhan nutrisi

Jumlah ransum disesuaikan agar kombinasi CP51, maggot BSF, S.O.D., dan TT dapat memberikan nutrien yang diperlukan untuk mendukung pemeliharaan tubuh dan produksi telur.

b.      Bahan kering

Maggot BSF segar dan S.O.D. mengandung air dalam jumlah cukup tinggi. Oleh karena itu, perbandingan berdasarkan berat segar dapat memberikan interpretasi yang berbeda dibandingkan perbandingan berdasarkan bahan kering.

Pendekatan bahan kering digunakan untuk menghindari kesalahan interpretasi bahwa 1 kg bahan segar memiliki kontribusi nutrisi yang sama dengan 1 kg bahan kering.

Dengan demikian, pemberian 153 gram ransum segar/ekor/hari merupakan hasil penyesuaian antara formulasi bahan pakan, kandungan bahan kering, dan kebutuhan nutrisi ayam yang menjadi objek penelitian.

Parameter Pengamatan

Parameter penelitian meliputi :

1.      jumlah telur harian;

2.      persentase Hen Day Production (HDP);

3.      berat telur;

4.      konsumsi ransum;

5.      karakteristik albumen;

6.      karakteristik kuning telur;

7.      kondisi kerabang;

8.      pengamatan visual kualitas internal telur.

Persentase HDP dihitung menggunakan persamaan :

HDP (%) = (jumlah telur per hari / jumlah ayam) × 100

Dengan populasi 31 ekor, setiap kenaikan satu butir telur setara dengan sekitar : 1/31 × 100 = 3,23% HDP.

4.    Pengamatan Kualitas Telur

        Hasil pengujian 5 butir telur

Sampel

Berat telur (g)

Cangkang (g)

Kuning telur (g)

Putih telur* (g)

% cangkang

% kuning

1

62,9

8,9

15,7

38,3

14,15%

24,96%

2

62,9

8,2

15,7

39,0

13,04%

24,96%

3

67,9

8,6

14,1

45,2

12,67%

20,77%

4

60,0

8,0

14,2

37,8

13,33%

23,67%

5

67,7

12,1

16,5

39,1

17,87%

24,37%

Rata-rata

64,28

9,16

15,24

39,88

±14,21%

±23,75%

*Putih telur dihitung secara tidak langsung :

Berat putih = berat telur - cangkang - kuning telur

Rata-rata :

      • Berat telur                   : 64,28 g
      • Berat cangkang           : 9,16 g
      • Berat kuning               : 15,24 g
      • Estimasi berat putih    : 39,88 g
      • Proporsi cangkang      : ±14,21%
      • Proporsi kuning           : ±23,75%
      • Proporsi putih              : ±62,04%

Temuan visual Membran vitelin kuning telur dan Albumen

Kelima telur memiliki lapisan putih telur di sekitar kuning telur yang sangat kental dan dapat terlihat secara kasat mata. Selaput kuning telur kuat, dapat dicubit dan diangkat tanpa mudah pecah. Observasi ditemukan pada 5/5 sampel telur yang diuji.

"Pada seluruh lima telur yang diuji (5/5 sampel), secara visual tampak adanya lapisan albumen yang lebih kental yang mengelilingi kuning telur. Membran vitelin kuning telur juga menunjukkan kekuatan mekanis secara subjektif, ditunjukkan dengan kemampuan membran untuk dicubit dan diangkat tanpa segera mengalami kerusakan atau pecah."

Albumen yang terlihat kental memang merupakan indikasi menarik

    • "Telur menunjukkan karakteristik albumen yang secara visual tampak kental."
    • Membuktikan Haugh Unit, menambahkan pengukuran tinggi albumen (mm) dan berat telur.
    • Dengan dua data itu kita bisa menghitung Haugh Unit.

Temuan kuning telur juga menarik

Rata-rata berat kuning                        : 15,24 gram/butir

dengan proporsi rata-rata sekitar         : 23,75% dari berat telur.

Rentang berat kuning                          : 14,1–16,5 gram.

Yang menarik, telur nomor 3 memiliki berat telur paling besar kedua (67,9 g) tetapi kuning telurnya hanya 14,1 g.

Sebaliknya telur nomor 5 memiliki    :

·         telur: 67,7 g

·         kuning: 16,5 g

Jadi ukuran telur tidak selalu berbanding lurus dengan berat kuning. Ini normal untuk variasi biologis dan justru menunjukkan mengapa pengukuran beberapa telur lebih informatif daripada satu telur.

Cangkang

Rata-rata cangkang     : 9,16 gram/butir

dengan rentang            : 8,0–12,1 gram

Proporsi rata-rata        : ±14,21% berat telur.

Telur nomor 5 memiliki cangkang 12,1 g, jauh lebih tinggi dibandingkan empat sampel lainnya.

Namun, berat cangkang saja belum cukup untuk menyatakan cangkang lebih kuat.

Untuk menyebut "kerabang kuat", penelitian berikutnya sebaiknya mengukur :

·         ketebalan kerabang (mm);

·         berat kerabang;

·         atau kekuatan pecah kerabang (breaking strength).

Pengujian Kualitas Fisik Telur

Pengujian kualitas fisik dilakukan terhadap lima butir telur yang diambil dari kelompok ayam CW. Parameter yang diamati meliputi berat telur utuh, berat cangkang, berat kuning telur, serta karakteristik visual albumen dan membran kuning telur.

Berat telur dari lima sampel berkisar antara 60,0–67,9 gram dengan rata-rata 64,28 gram/butir. Berat cangkang berkisar antara 8,0–12,1 gram dengan rata-rata 9,16 gram/butir, sedangkan berat kuning telur berkisar antara 14,1–16,5 gram dengan rata-rata 15,24 gram/butir.

Berdasarkan perhitungan massa, berat putih telur secara tidak langsung berkisar antara 37,8–45,2 gram dengan rata-rata 39,88 gram/butir. Rata-rata proporsi cangkang terhadap berat telur adalah sekitar 14,21%, sedangkan proporsi kuning telur sekitar 23,75%.

Pengamatan visual menunjukkan bahwa seluruh lima sampel telur (5/5) memiliki lapisan albumen di sekitar kuning telur yang tampak sangat kental. Selain itu, membran vitelin kuning telur menunjukkan karakteristik yang relatif kuat pada pengujian sederhana, karena dapat dicubit dan diangkat tanpa segera pecah. Temuan tersebut merupakan observasi deskriptif dan belum dapat disamakan dengan pengukuran instrumental terhadap kualitas albumen atau kekuatan membran vitelin.

Tiga kelompok data dalam penelitian CW

·        Produktivitas

631 telur / 285 hari22,54 telur/hari72,7% HDP

·        Ukuran telur

Rata-rata pengujian 5 telur : 64,28 g/butir

·        Karakteristik internal telur

5/5 telur menunjukkan :

·         albumen bagian dalam sangat kental secara visual

·         membran kuning telur dapat dicubit dan diangkat tanpa segera pecah

Perhitungan Kebutuhan Ransum Kelompok

Dengan jumlah ayam 31 ekor dan pemberian 153 gram/ekor/hari :

Kebutuhan harian = 4,743 kg/hari

Kebutuhan selama 35 hari : 4,743 × 35 = 166,005 kg

Perhitungan ini dapat digunakan untuk mengevaluasi kebutuhan bahan pakan sekaligus membandingkan jumlah nutrien yang diberikan selama periode penelitian.


Respon Produktivitas Dan Kualitas Telur Ayam Petelur Terhadap Pemberian Pakan Berbasis Maggot BSF, S.O.D Dan Pakan Komersial

Respon Produktivitas Dan Kualitas Telur Ayam Petelur Terhadap Pemberian Pakan Berbasis Maggot BSF, S.O.D Dan Pakan Komersial Studi pendahulu...