Respon Produktivitas Dan Kualitas Telur Ayam Petelur Terhadap Pemberian Pakan Berbasis Maggot BSF, S.O.D Dan Pakan Komersial
Studi pendahuluan pada 31 ekor ayam petelur CW (Cangkuang Wetan)
Muhammad Ardhi Elmeidian (Ketua Paguyuban Pegiat Maggot Nusantara)
Pelaksana : Cholidin (Petugas Desa CW dan Anggota PPMN)
Waktu : 35 hari (10 Agustus 2026 - 13 September 2026)
Pembina : Asep Kusmiadi, S.Pd.I., M.Pd (Kepala Desa Cangkuang Wetan)
ABSTRAK
Penelitian ini merupakan studi
pendahuluan mengenai respons produktivitas dan kualitas telur ayam petelur
terhadap pemberian pakan dengan komposisi 40% pakan komersial CP51, 55% maggot
segar Black Soldier Fly (BSF), 3% Sampah Organik Domestik (S.O.D.), dan
2% TT.
Penelitian dilakukan pada
kelompok yang terdiri atas 31 ekor ayam petelur CW dengan pengamatan produksi
telur dan karakteristik fisik telur. Hasil pengamatan menunjukkan adanya
peningkatan produksi dari 13 butir telur atau 41,94% Hen Day Production (HDP)
pada 11 Agustus 2026 hingga mencapai 28 butir atau 90,32% HDP pada 18 dan 23
Agustus 2026. Setelah fase peningkatan, produksi relatif stabil pada kisaran
23–25 butir per hari atau 74,19–80,65% HDP. Pengamatan fisik telur menunjukkan
adanya albumen bagian dalam yang relatif kental dan jernih serta kuning telur
yang relatif tidak mudah pecah pada pengujian sederhana. Pada 20 Agustus 2026
diperoleh rata-rata berat telur 55,5 gram per butir dari 20 butir telur, dengan
ditemukan telur berbobot 78 gram. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan 55%
maggot segar dalam formulasi pakan tidak secara langsung menghambat produksi
telur pada kelompok penelitian. Namun, penelitian ini bersifat pendahuluan dan
tidak menggunakan kelompok kontrol, sehingga belum dapat digunakan untuk
membuktikan hubungan kausal antara formulasi pakan dan peningkatan produksi
maupun kualitas telur. Penelitian lanjutan dengan kontrol, pengukuran konsumsi
pakan, konversi pakan, Haugh Unit, tinggi albumen, indeks kuning telur,
ketebalan dan kekuatan kerabang diperlukan untuk memperoleh kesimpulan yang
lebih kuat.
Kata kunci: ayam petelur, maggot BSF, S.O.D., produktivitas telur, kualitas telur, HDP.
1. PENDAHULUAN
Pakan merupakan salah satu komponen
utama dalam pemeliharaan ayam petelur dan berhubungan erat dengan produktivitas
serta biaya produksi. Ketergantungan terhadap pakan komersial menjadi salah
satu tantangan dalam pengembangan usaha ayam petelur, terutama ketika harga
bahan baku pakan mengalami perubahan.
Maggot Black Soldier Fly
(BSF) merupakan salah satu bahan alternatif yang berpotensi dimanfaatkan
sebagai sumber nutrien dalam pakan ternak. Selain menghasilkan biomassa yang
dapat dimanfaatkan sebagai pakan, budidaya BSF juga memiliki keterkaitan dengan
pengelolaan bahan organik.
Dalam penelitian ini digunakan
formulasi pakan yang mengombinasikan pakan komersial, maggot BSF segar, S.O.D
(Sampah Organik Domestik)., dan TT (Tepung Tulang). Komposisi tersebut terdiri
atas 40% CP51, 55% maggot segar, 3% S.O.D., dan 2% TT. Total Ransum per ekot
153 gram.
Pendekatan tersebut menarik
untuk dikaji karena tingginya proporsi maggot segar dalam formulasi pakan
menimbulkan pertanyaan apakah penggunaan bahan alternatif dalam jumlah besar
dapat mempertahankan produktivitas ayam petelur sekaligus mempertahankan kualitas
fisik telur.
Pengamatan pada kelompok 31
ekor ayam CW menunjukkan bahwa produksi meningkat selama periode penelitian.
Produksi awal sebesar 13 butir atau 41,94% HDP pada 11 Agustus 2026 meningkat
hingga 28 butir atau 90,32% HDP pada 18 Agustus 2026.
Temuan tersebut menjadi dasar
dilakukannya analisis lebih lanjut terhadap pola produktivitas dan
karakteristik telur yang dihasilkan.
2. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan :
- Mengamati respons produksi telur ayam CW terhadap formulasi pakan berbasis maggot BSF segar, S.O.D., dan pakan komersial.
- Menggambarkan perubahan persentase HDP selama periode pengamatan.
- Mengamati karakteristik fisik dan kualitas internal telur secara deskriptif.
- Menilai kelayakan awal formulasi tersebut sebagai dasar penelitian lanjutan yang lebih terkontrol.
3. METODE PENELITIAN
Lokasi dan
Pelaksana Penelitian
Penelitian
dilaksanakan di TPS3R Desa Cangkuang Wetan, Kecamatan Dayeuh Kolot, Kabupaten
Bandung, Jawa Barat.
Pelaksanaan
penelitian dilakukan oleh Cholidin, yang merupakan pegawai Desa Cangkuang Wetan
sekaligus anggota Paguyuban Pegiat Maggot Nusantara (PPMN). Pelaksana
bertanggung jawab terhadap pemberian ransum, pengamatan kondisi ayam,
pencatatan produksi telur, serta pengumpulan data lapangan.
Hewan
Penelitian
Hewan yang
digunakan dalam penelitian adalah 31 ekor ayam petelur CW. Jumlah ayam
dipertahankan selama periode pengamatan sehingga persentase produksi telur
dapat dihitung berdasarkan populasi yang sama.
Formulasi
Pakan
Pakan yang
digunakan merupakan kombinasi antara pakan komersial, maggot BSF segar, S.O.D.,
dan TT dengan komposisi :
|
Bahan pakan |
Proporsi |
|
CP51 |
40% |
|
Maggot BSF segar |
55% |
|
S.O.D. |
3% |
|
TT |
2% |
|
Total |
100% |
Penggunaan
maggot dalam bentuk segar menyebabkan kandungan air bahan menjadi faktor
penting dalam menentukan jumlah ransum yang diberikan. Oleh karena itu, jumlah
pemberian pakan tidak ditetapkan hanya berdasarkan berat bahan segar, tetapi
disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi ayam dan kandungan bahan kering (dry
matter) dari ransum.
Jumlah
Pemberian Ransum
Ransum
diberikan sebanyak 153 gram/ekor/hari.
Dengan jumlah
31 ekor ayam, kebutuhan ransum teoritis kelompok Adalah : 31 ekor × 153 gram =
4.743 gram/hari atau sekitar : 4,743 kg ransum/hari.
Penetapan 153
gram/ekor/hari dimaksudkan untuk menyesuaikan kebutuhan nutrisi ayam dengan
karakteristik bahan penyusun ransum, terutama karena maggot dan S.O.D.
digunakan dalam kondisi segar yang mempunyai kandungan air relatif tinggi.
Dalam
penelitian ini, aspek bahan kering (BK) menjadi pertimbangan penting karena
berat bahan segar tidak secara langsung menggambarkan jumlah nutrien yang
tersedia bagi ayam.
Dasar
Penetapan Ransum
Perhitungan
ransum mempertimbangkan dua aspek utama:
a. Kebutuhan nutrisi
Jumlah ransum
disesuaikan agar kombinasi CP51, maggot BSF, S.O.D., dan TT dapat memberikan
nutrien yang diperlukan untuk mendukung pemeliharaan tubuh dan produksi telur.
b. Bahan kering
Maggot BSF
segar dan S.O.D. mengandung air dalam jumlah cukup tinggi. Oleh karena itu,
perbandingan berdasarkan berat segar dapat memberikan interpretasi yang berbeda
dibandingkan perbandingan berdasarkan bahan kering.
Pendekatan
bahan kering digunakan untuk menghindari kesalahan interpretasi bahwa 1 kg
bahan segar memiliki kontribusi nutrisi yang sama dengan 1 kg bahan kering.
Dengan
demikian, pemberian 153 gram ransum segar/ekor/hari merupakan hasil penyesuaian
antara formulasi bahan pakan, kandungan bahan kering, dan kebutuhan nutrisi
ayam yang menjadi objek penelitian.
Parameter
Pengamatan
Parameter
penelitian meliputi :
1.
jumlah telur
harian;
2.
persentase Hen Day
Production (HDP);
3.
berat telur;
4.
konsumsi ransum;
5.
karakteristik
albumen;
6.
karakteristik
kuning telur;
7.
kondisi kerabang;
8.
pengamatan visual
kualitas internal telur.
Persentase
HDP dihitung menggunakan persamaan :
HDP (%) = (jumlah telur per hari / jumlah ayam) × 100
Dengan
populasi 31 ekor, setiap kenaikan satu butir telur setara dengan sekitar : 1/31
× 100 = 3,23% HDP.
4. Pengamatan
Kualitas Telur
Hasil pengujian 5 butir telur
|
Sampel |
Berat telur (g) |
Cangkang (g) |
Kuning telur (g) |
Putih telur* (g) |
% cangkang |
% kuning |
|
1 |
62,9 |
8,9 |
15,7 |
38,3 |
14,15% |
24,96% |
|
2 |
62,9 |
8,2 |
15,7 |
39,0 |
13,04% |
24,96% |
|
3 |
67,9 |
8,6 |
14,1 |
45,2 |
12,67% |
20,77% |
|
4 |
60,0 |
8,0 |
14,2 |
37,8 |
13,33% |
23,67% |
|
5 |
67,7 |
12,1 |
16,5 |
39,1 |
17,87% |
24,37% |
|
Rata-rata |
64,28 |
9,16 |
15,24 |
39,88 |
±14,21% |
±23,75% |
*Putih telur dihitung secara tidak langsung :
Berat putih = berat telur - cangkang
- kuning telur
Rata-rata :
- Berat telur : 64,28 g
- Berat cangkang : 9,16 g
- Berat kuning : 15,24 g
- Estimasi berat putih : 39,88 g
- Proporsi cangkang : ±14,21%
- Proporsi kuning : ±23,75%
- Proporsi putih : ±62,04%
Temuan
visual Membran vitelin kuning telur dan Albumen
Kelima telur
memiliki lapisan putih telur di sekitar kuning telur yang sangat kental dan
dapat terlihat secara kasat mata. Selaput kuning telur kuat, dapat dicubit dan
diangkat tanpa mudah pecah. Observasi ditemukan pada 5/5 sampel telur yang
diuji.
"Pada
seluruh lima telur yang diuji (5/5 sampel), secara visual tampak adanya lapisan
albumen yang lebih kental yang mengelilingi kuning telur. Membran vitelin
kuning telur juga menunjukkan kekuatan mekanis secara subjektif, ditunjukkan
dengan kemampuan membran untuk dicubit dan diangkat tanpa segera mengalami
kerusakan atau pecah."
Albumen
yang terlihat kental memang merupakan indikasi menarik
- "Telur menunjukkan karakteristik albumen yang secara visual tampak kental."
- Membuktikan Haugh Unit, menambahkan pengukuran tinggi albumen (mm) dan berat telur.
- Dengan dua data itu kita bisa menghitung Haugh Unit.
Temuan
kuning telur juga menarik
Rata-rata
berat kuning : 15,24
gram/butir
dengan
proporsi rata-rata sekitar : 23,75%
dari berat telur.
Rentang berat
kuning : 14,1–16,5
gram.
Yang menarik,
telur nomor 3 memiliki berat telur paling besar kedua (67,9 g) tetapi
kuning telurnya hanya 14,1 g.
Sebaliknya
telur nomor 5 memiliki :
·
telur: 67,7 g
·
kuning: 16,5 g
Jadi ukuran
telur tidak selalu berbanding lurus dengan berat kuning. Ini normal untuk
variasi biologis dan justru menunjukkan mengapa pengukuran beberapa telur lebih
informatif daripada satu telur.
Cangkang
Rata-rata
cangkang : 9,16 gram/butir
dengan
rentang : 8,0–12,1 gram
Proporsi
rata-rata : ±14,21% berat telur.
Telur nomor 5
memiliki cangkang 12,1 g, jauh lebih tinggi dibandingkan empat sampel
lainnya.
Namun, berat
cangkang saja belum cukup untuk menyatakan cangkang lebih kuat.
Untuk
menyebut "kerabang kuat", penelitian berikutnya sebaiknya mengukur :
·
ketebalan kerabang
(mm);
·
berat kerabang;
·
atau kekuatan
pecah kerabang (breaking strength).
Pengujian
Kualitas Fisik Telur
Pengujian
kualitas fisik dilakukan terhadap lima butir telur yang diambil dari kelompok
ayam CW. Parameter yang diamati meliputi berat telur utuh, berat cangkang,
berat kuning telur, serta karakteristik visual albumen dan membran kuning
telur.
Berat telur
dari lima sampel berkisar antara 60,0–67,9 gram dengan rata-rata 64,28
gram/butir. Berat cangkang berkisar antara 8,0–12,1 gram dengan rata-rata 9,16
gram/butir, sedangkan berat kuning telur berkisar antara 14,1–16,5 gram
dengan rata-rata 15,24 gram/butir.
Berdasarkan
perhitungan massa, berat putih telur secara tidak langsung berkisar antara
37,8–45,2 gram dengan rata-rata 39,88 gram/butir. Rata-rata proporsi
cangkang terhadap berat telur adalah sekitar 14,21%, sedangkan proporsi
kuning telur sekitar 23,75%.
Pengamatan
visual menunjukkan bahwa seluruh lima sampel telur (5/5) memiliki
lapisan albumen di sekitar kuning telur yang tampak sangat kental. Selain itu,
membran vitelin kuning telur menunjukkan karakteristik yang relatif kuat pada
pengujian sederhana, karena dapat dicubit dan diangkat tanpa segera pecah.
Temuan tersebut merupakan observasi deskriptif dan belum dapat disamakan dengan
pengukuran instrumental terhadap kualitas albumen atau kekuatan membran
vitelin.
Tiga kelompok data dalam
penelitian CW
·
Produktivitas
631 telur / 285 hari → 22,54 telur/hari → 72,7% HDP
·
Ukuran
telur
Rata-rata pengujian 5 telur : 64,28 g/butir
·
Karakteristik
internal telur
5/5 telur menunjukkan :
·
albumen
bagian dalam sangat kental secara visual
·
membran
kuning telur dapat dicubit dan diangkat tanpa segera pecah
Perhitungan
Kebutuhan Ransum Kelompok
Dengan jumlah ayam
31 ekor dan pemberian 153 gram/ekor/hari :
Kebutuhan harian = 4,743
kg/hari
Kebutuhan
selama 35 hari : 4,743 × 35 = 166,005 kg
Perhitungan
ini dapat digunakan untuk mengevaluasi kebutuhan bahan pakan sekaligus
membandingkan jumlah nutrien yang diberikan selama periode penelitian.
