Senin, 11 Oktober 2021

Membirukan Langit Dan Menghijaukan Bumi

Membirukan Langit Dan Menghijaukan Bumi

Penumpukan sampah organik pada Tempat Penampungan Akhir (TPA), jelas menimbulkan masalah baru bagi masyarakat sekitarnya, bahkan berdampak secara global. Sampah organik yang terdekomposisi anaerob (tanpa/sedikit udara) menimbulkan bau busuk dan pelepasan gas-gas bio (biogas) diantaranya : metana (CH4) 55% - 75%, karbon dioksida (CO2) 25% - 45%, Nitrogen (N₂) 0% - 0,3%, Hidrogen (H₂) 1% - 5%, Hidrogen Sulfida (H₂S) 0% - 3%, Oksigen (O₂) 0,1% - 0,5%. Mungkin juga berbeda tergantung bahan-bahan penyusunnya. (Wikipedia Indonesia). Gas CH4 pada lapisan stratosfer berperan sebagai gas rumah kaca (GRK) dan berefek pada munculnya #PemanasanGglobal / #GlobalWarming.
#ManfaatkanSampah Organik Dapur (s.o.d) dengan #biokonversibsf adalah proses aerob (membutuhkan udara), proses aerobic yang baik akan menghindari pelepasan gas-gas bio (biogas) tersebut di atas ke udara bebas, sehingga akan mengurangi #DampakGasRumahKaca / #GreenHouseGases. Bahkan bahan-bahan organic ini tidak membutuhkan waktu lama untuk terkonversi menjadi larva / maggot bsf. Fase Larva / Maggot pada lalat bsf ini mampu menghabiskan #SampahSisaMakanan hingga 5 kali bobot badannya kurang dari 24 jam. Secara sempurna Sang Pencipta Allah SWT telah memberikan solusi terhadap penuntasan #SampahSisaMakanan #FoodWaste ini.
Diskusi PPM dengan Direktorat Pengelolaan Sampah - KLHK Direktorat Pengelolaan Sampah KLHK Ditjen PSLB3 KLHK Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pengolahan sampah organic #NOLkanSOD dengan maggot BSF 1 ton/hari dapat menurunkan emisi Gas Rumah Kaca #GRK sebesar 401 ton CO2e setiap tahunnya.
Satu hal Paguyuban Pegiat Maggot - BSF dengan nama dalam akta notaris Perkumpulan Paguyuban Pegiat Maggot Nusantara pernah melakukan survei di tahun 2020 bahwa kami tersebar lebih dari 27 provinsi dengan jumlah pegiat 578 orang/kelompok. Dari 578 orang/kelompok ini telah merespon survei Kami sebanyak 241 orang atau kelompok dari 19 provinsi. Survei ini bertujuan untuk mengidentifikasi para pegiat maggot seluruh nusantara dengan berbagai kekurangan dan kelebihannya. Sekaligus memberitakan kepada siapa saja dan khususnya Pemerintah, baik di Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota, bahwa kami Paguyuban Pegiat Maggot secara kolektif telah berbuat nyata mengolah sampah organic yang biasa kami sebut s.o.d tidak kurang dari 52ton setiap harinya dengan hasil maggot bsf 12ton setiap hari, tersebar di 19 provinsi seluruh nusantara.
Merujuk diskusi PPM dengan KLHK tersebut di atas, maka secara kolektif Kami/PPM telah menurunkan emisi Gas Rumah Kaca #GRK sebesar 7.610.980 ton per tahun. Gerakkan rakyat Paguyuban Pegiat Maggot Nusantara, dengan para pegiatnya yang luar biasa tangguh, mengedepankan aspek lingkungan hidup sebagai agenda besar kelompok, adalah agen-agen perubahan untuk “Membirukan Langit Dan Menghijaukan Bumi” menuju masa depan yang lebih baik #RevolusiHijau40, Black Soldier Fly (BSF) adalah anugrah besar Sang Pencipta Allah SWT sebagai solusi sampah organic di hulu dan menjadi #PakanTernakMurah di Hilir, untuk menciptakan #KetahananPanganMandiri karena #HilirSODTernakTaniIkan. #MaggotBSFPembebasEfekRumahKaca.

Rabu, 06 Oktober 2021

Bom Waktu Itu Bernama Sampah Organik.

 Bom Waktu Itu Bernama Sampah Organik.

Oleh : Teguh Iman Perdana
Ungkapan itu riil, harfiah dan bukan analogi.
Ada yang ingat dengan peristiwa ledakan TPA Leuwigajah pada 2005 silam? 157 jiwa manusia hengkang dari jasadnya, di kawasan Leuwigajah Kota Cimahi.

Lagi-lagi itu bukan ungkapan. Bukan analogi. Sebelum akhirnya runtuh, memang terjadi ledakan besar laksana bom. Material sampah berhamburan, lalu tumpah mengubur para pemulung. Ledakan itu diakibatkan gas metana yang mendorong sampah di atasnya karena tekanan. Panas yang dihasilkan luar biasa hingga menimbulkan efek seperti bom, dan, akibatnya sungguh mengerikan: merebus para pemulung yang terperosok masuk dan tertimbun. Akibatnya, jenazah mereka sebagian besar laksana ikan kerapu steam di restoran favorit kita. Mrotol saking empuknya.

Akibat apakah efek gas metana itu? Ketika bahan organik terdekomposisi secara anaerob maka akan menghasilkan gas methana , gas ini layaknya LPG yang mudah terbakar, mirisnya gas ini dapat menyebabkan kerusakan pada lapisan ozon. Menurut beberapa sumber komposisi gas yang dihasilkan dari proses anaerob bahan-bahan organic tersebut terdiri dari : Metana (CH4) 55%-75%, Karbondioksida (CO2) 25%-45%, dan kurang dari 10% campuran ; Nitrogen (N2), Hidrogen (H2), Hidrogen sulfide (H2S) serta Oksigen (O2).

Ya, kini kita faham, itulah efek timbunan sampah organik yang tidak terolah dengan baik. Ancaman itu, diam-diam mengintai berbagai TPA di seluruh Indonesia yang tidak punya cara khusus mengolah sampah organik mereka.

Sampah organik memang membuat kita "serba salah". Wujudnya yang mudah membusuk, kerap memalingkan wajah kita untuk mengolahnya. Diolah pun, tak semudah sampah non organik yang kering dan masih punya nilai jual itu. Tetapi itu kisah dua tiga tahun lalu. Kini, "pahlawan" itu hadir mengatasi sampah organik dengan menakjubkan. Sang pahlawan bernama magot, atau larva dari lalat "Black Soldier Fly". Maggot terbukti rakus dan lahap, mampu mengunyah dan menelan sampah organik sepanjang hidupnya. Dan, saat maggot menjadi besar, ia pun menjelma menjadi produk bernilai jual tinggi. Minyaknya dicari-cari, badannya yang bongsor bernilai protein tinggi, sangat disukai ikan-ikan, juga ayam dan unggas lainnya. Pendeknya, maggot adalah solusi dalam semua segi. Bagi aparat, juga rakyat.

Senin, 16 Agustus 2021

Perspektif Persampahan (Paradigma Baru Persampahan)

 LATAR BELAKANG

Persoalan sampah di Kota serta upaya pemerintah di tingkat pusat,  provinsi, kota dan kabupaten untuk mengatasi sampah terus berlanjut. Beragam program. Khususnya Kota Kembang Bandung yang menjadi sorotan berbagai pihak, paska longsornya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah mendapat perhatian berbagai kalangan. Peristiwa longsornya TPA leuwihgajah yang belakangan dijadikan Hari Perduli Sampah Nasional (HPSN) selain menimbulkan korban jiwa, kerugian material, juga berdampak buruk pada lingkungan.

 

DEFINISI

Pentingnya definisi sangat mempengaruhi pola-pola perlakuan hingga penanganan terhadap sesuatu yang didefinisikan, oleh karenanya sebuah definisi sebaiknya memberikan informasi yang jelas mengenai fakta sesuatu serta informasi mengenai fakta tersebut, hubungan fakta dan informasi inilah yang menjadi definisi.

Definisi Limbah menurut Enri Damanhuri adalah Semua buangan yang dihasilkan oleh aktivitas manusia dan hewan yang berbentuk padat, lumpur (sludge), cair maupun gas yang dibuang karena tidak dibutuhkan atau tidak diinginkan lagi. Walaupun dianggap sudah tidak berguna dan tidak dikehendaki, namun bahan tersebut kadang–kadang masih dapat dimanfaatkan kembali dan dijadikan bahan baku .

Limbah Domestik adalah limbahyang dihasilkan dari kegiatan rutin (sehari-hari) manusia, umumnya dalam bentuk:

·  Cair : dari kegiatan mencuci pakaian dan makanan, mandi, kakus (tinja dan air seni),     menyiram, dan kegiatan lain yang menggunakan air di rumah

·  Padat : dikenal sebagai sampah (domestik). (enri damanhuri)

Sampah Menurut Undang-undang Nomor : 18 Tahun 2008

Definisi sampah menurut UU-18/2008 tentang Pengelolaan Sampah [68] adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat.

Definisi Sampah : sampah adalah bagian dari kehidupan manusia yang pada prakteknya tidak bisa dihindari produksinya seiring dengan pemenuhan kebutuhan hidup manusia, maka sampah adalah sebuah sunnatullah / kausalitas kehidupan ; dimana sampah memiliki sifat-sifat alami (qadar) yang wajib (fardhu kifayah) untuk diselesaikan. Karena sampah memiliki sifat-sifat alami yang tetap maka dalam penyelesaiannya akan semakin mudah jika memahami sifat-sifat dasarnya dan bagaimana alam mencernanya.

PERUBAHAN MENDASAR

Dalam penanganan problem persampahan sering kita mendengar tentang perubahan pola hidup masyarakat, perubahan pandangan terhadap sampah dan perubahan-perubahan lainnya. Perubahan yang hakiki adalah perubahan yang didasari kepada pemikiran yang benar tentang hidup, alam semesta, dan manusia, serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang ada sesudahnya – sehingga manusia mampu bangkit kemudian melakukan perubahan mendasar dan menyeluruh. Kemudian diarahkan kepada pemikiran yang baru, sebab pemikiranlah yang membentuk dan memperkuat persepsi terhadap segala sesuatu, selain itu manusia selalu mengatur tingkah lakunya dalam kehidupan ini sesuai dengan persepsinya terhadap kehidupan. Permasalahan penanganan sampah kota yang tidak pernah mencapai hasil signifikan karena tidak menyentuh akar persoalan, yaitu :

1.                  Aspek kesadaran (bahwa sampah adalah qadar/sifat yang tetap),

2.                  Aspek penanganan (bahwa sampah bukan sesuatu yang sia-sia),

3.                  Aspek penerapan tekhnologi (riset, pemantauan dan aplikasi),

4.                  Aspek integrasi dan koordinasi (berbagai element untuk menyatukan nilai-nilai).

PENGENDALIAN SAMPAH MENURUT UNDANG-UNDANG DAN AHLI PERSAMPAHAN SERTA GAGASAN ZERO WASTE

Dilihat dari keterkaitan terbentuknya limbah, khususnya limbah padat, ada 2 (dua) pendekatan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan akibat adanya limbah, yaitu:

·  Pendekatan proaktif: yaitu upaya agar dalam proses penggunaan bahan akan dihasilkan limbah yang seminimal mungkin, dengan tingkat bahaya yang serendah mungkin.

·  Pendekatan reaktif: yaitu penanganan limbah yang dilakukan setelah limbah tersebut terbentuk. (Enri Damanhuri Dan Tri Padmi)

Menurut UU-18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, terdapat 2 kelompok utama pengelolaan sampah, yaitu:

1.                  Pengurangan sampah, yaitu pembatasan terjadinya sampah,

2.                  guna-ulang dan daur-ulang,

3.                  Penanganan sampah , yang terdiri dari :

·         Pemilahan: dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah

·         Pengumpulan: dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu,

·         Pengangkutan: dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir

·         Pengolahan: dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah

Gagasan yang lebih radikal adalah melalui konsep kegiatan tanpa limbah (zero waste). Secara teoritis, gagasan ini dapat dilakukan, tetapi secara praktis sampai saat ini belum pernah dapat direalisir. Oleh karenanya, gagasan ini lebih ditonjolkan sebagi semangat dalam pengendalian pencemaran limbah, yaitu agar semua kegiatan manusia handaknya berupaya untuk meminimalkan terbentuknya limbah atau meminimalkan tingkat bahaya dari limbah, bahkan kalau muingkin meniadakan. (enri damanhuri)

PENGELOLAAN SAMPAH

Konsep zero waste adalah utopis karena sampah adalah QADAR yang hadir bersamaan dengan hadirnya makhluk, baik makhluk hidup maupun mati, baik bergerak maupun diam. Realitas sampah menjadi eksis karena adanya kehidupan secara umum maupun khusus, setiap kehidupan dimana sesama makhluk berinteraksi akan menghasilkan sampah atau dalam bahasa prof. enri di atas hanya sebagai “spirit”.

Yang lebih rasional adalah “management” atau pengaturan, jika hari ini sampah bermasalah kemudian pemerintah tidak mampu menyelesaikannya maka selagi persoalan ini tidak terselesaikan menjadi tanggungjawab setiap individu untuk melakukan tindakan yang mengarah kepada penyelesaian (fardhu kifayah). Untuk itu dibutuhkan pemimpin yang mampu mengarahkan energy masyarakat kepada segala sesuatu yang menyelesaikan, dengan kata lain pemerintah wajib memimpin masyarakat ke arah yang telah ditentukan.

Satu hal yang perlu dipahami bersama bahwasannya fardhu kifayah jika belum tuntas persoalannya maka fardhu kifayah ini adalah fardhu ain dengan tidak merubah esensinya.

Pertanyaan berikutnya ke arah mana masyarakat akan dibawa???

Fardhu kifayah utamanya adalah kewajiban pemerintah, maka dalam upaya menentukan arah perbaikan juga menjadi kewajiban pemerintah, meskipun metode dan caranya bisa saja diambil dari ahli persampahan atau khalayak biasa, tujuannya adalah minimalisir sampah yang bertumpuk dengan pengolahan sehingga sampah yang ditimbun di TPA berkurang.

Dalam hal ini pilihan teknologi menjadi jalan yang bisa mempercepat atau bahkan memperlambat metode atau cara minimalisir sampah tersebut. Teknologi memang bukan utama tapi salah menentukan teknologi akan menjadi pisau bermata dua, satu sisi menyelesaikan – sisi lain memicu masalah baru.

Dalam menentukan pilihan teknologipun harus memiliki arah yang jelas, sejalan dengan tujuan minimalisir sampah. Teknologi apa yang mampu dengan cepat dan tanpa dampak untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Teknologi tidak selalu mahal jika kita mampu menguasainya, pilihan teknolgi alami misalnya sangat mungkin dilakukan dengan anggaran minim sekalipun. Jika teknologi yang dipilih membutuhkan anggaran yang besar seharusnya tidak masalah juga, karena jika kita menguasainya bargaining position akan kuat ditangan kita sehingga swasta tidak semena-mena dalam meraup keuntungan.

Menentukan pilihan teknologi mutlak harus dilakukan perbagai percobaan dalam tingkat yang sekecil mungkin untuk minimalisir biaya namun representative. Inilah spirit kemajuan teknologi yang tidak akan pernah dimiliki oleh bangsa, suku, bahkan ideology manapun kecuali keikhlashan menjadi ruh nya. Sehingga bersungguh-sungguh dan konsekwen (istiqamah), pantang menyerah mencari terus menerus hingga ditemukan jawaban yang tepat untuk menjawab setiap persoalan.

Pemerintah wajib menganggarkan kegiatan percobaan dan riset-riset kecil untuk kebutuhan masa kini dan masa datang, kemudian pemerintah pula memimpin masyarakat dalam melakukan apa yang telah di uji cobakan, sehingga kecil kemungkinan akan terjadi kesalahan. Sekalipun kesalahan itu ada, akan dengan mudah dilakukan perbaikan sehingga tidak berlarut-larut.

SEKULARISME MENHILANGKAN KEIKHLASHAN

hari-hari belakangan ini pemerintah cenderung melepaskan tanggungjawabnya kepada masyarakat terkait persoalan persampahan ini. Semangat Undang-undang nomor 18 tahun 2008 adalah menyerahkan porsi yang lebih besar kepada masyarakat untuk melakukan tindakan pengelolaan sampah, bahkan kecenderungannya bagian masyarakat menyelesaikan persoalan sampah ini lebih besar dari pemerintah.

Beberapa tahun berlalu, terbit Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012, Peraturan Mentri PU Nomor 3 tahun 2013. Semangat semua aturan itu adalah melibatkan sebanyak mungkin masyarakat untuk menyelesaikan persoalan persampahan. Melibatkan masyarakat, memobilisasi masyarakat adalah sah-sah saja, yang menjadi persoalan adalah siapa yang memimpin masyarakat dan ke arah mana masyarakat diarahkan? Terbit pula Peraturan Presiden Tentang Waste To Energy, meskipun belum membacanya namun dari judulnya “sampah menjadi energy” jelas membutuhkan investasi yang tidak sedikit, sisi lain internal negeri ini tidak berpengalaman dalam sampah menjadi energy ini. Ke depan sudah dapat diprediksi yang akan terjadi, sebagai berikut :

1.            Karena investasi yang besar dan negeri ini tidak kontribusi dalam penyertaan modal hanya lahan dan bahan baku, dapat diprediksi “Negeri ini akan berada di bawah telapak kaki pengusaha-pengusaha asing”

2.            Minim bahkan tanpa pengalaman mengolah sampah menjadi energy akan melemahkan dalam setiap argumentasi, meskipun ada secara terpisah pelaku-pelaku waste to energy sangat sporadic dan rapuh, hal ini akan memuluskan kekuasaan baru energy terbarukan yang dikuasai asing.

3.            Semua itu dapat dipastikan dibangun di lahan milik Negara atau Pemerintah Daerah, jika dalam rencana tata ruang tidak layak, kemungkinan besar akan dilayakkan, jika di sekitar dekat lokasi terdapat permukiman dan terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, asing akan dengan mudah meninggalkan lokasi masyarakat yang menanggung derita.

4.            Belum lagi jika ternyata investasi tersebut berisiko, jika risiko terburuk terjadi dipastikan rakyat yang akan membayarnya.

Kesimpulan Dan Nasihat Kepada Pemimpin

1.            Pemimpin bertanggungjawab terhadap yang dipimpinnya di akhirat kelak akan mempertanggungjwabkan setiap tindakkan berupa kebijakannya.

2.            Percaya diri dan menjadi diri sendiri, menggali dan mengelola potensi negeri serta sumber daya manusianya jauh lebih baik dibandingkan menggantungkannya kepada asing.

3.            Gunakan APBN/D untuk riset dan uji coba yang terukur dan matang, libatkan potensi anak negeri.

4.            Gunakan APBD/N untuk membuat pilot project di daerah masing-masing dengan tujuan dan visi yang jelas serta tidak mubadzir (menghambur-hamburkan uang).

5.            Sekali lagi guanakan APBN/D untuk kemashlahatan rakyat untuk merealisasikan pilot-pilot daerah untuk langkah yang lebih besar dengan terarah.

6.            Jika tidak mampu lakukan pencarian investasi dengan bargaining yang kuat dan tegas, tidak sebaliknya. Semua untuk kemashlahatan bumi dan isinya.

 

 

Wallahu ‘alam …..

 

Minggu, 25 April 2021

Bumi Sesungguhnya

Bumi Sesungguhnya

Namaku bumi
Tempat berpijak
Rendah ....

Kesabaran adalah aku
Muntahan isi perutku
Tsunami dan tornado

Irama dalam paduan ku cipta
Tepi-tepi laut guratan yang fana
Kelabu, biru, jingga dan hitam
Kehidupan seni serta keindahan

Diam di pidato-pidato pagi hingga petang
Terbang dan tenggelam....
Dalam nyanyi daku berbisik lantang
Teriakan tanpa suara....
Membunuhi kerusakan dengan bencana

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut 
Sebab perbuatan tangan manusia
Agar manusia merasakan sebagian akibat dari perbuatannya
Kembalilah ke jalan yang benar

Rabu, 24 Maret 2021

Jurnal MIF PPM BSF Serta Support Direktur Pengelolaan Sampah KLHK (video)

Suhu ruang rata2 25°C, mempengaruhi suhu reaktor, suhu reaktor sulit mencapai 35°C. Dimana 35°C adalah minimal suhu reaktor untuk bsfl.

 

Sampah yang digunakan mayoritas sisa Buah-buahan dari pasar Induk gedebage berkadar air >90%.

 

Kondisi media yg banyak air menjadikan suhu reaktor hanya maksimum di angka 30°C (ideal 35°C). Air menyerap panas, suhu reaktor tidak cukup konstan menguapkannya. Kadar air ideal untuk bsfl adalah 60% - 70%.

 

Kesimpulannya suhu ruang dan bahan baku mempengaruhi suhu reaktor.

 

Perlakuan dengan tanpa pengadukkan juga ditengarai Menjadi faktor lambatnya air menguap ke udara, kandungan air yang terperangkap pada media membutuhkan perlakuan pembalikkan sehingga membantu air menguap di udara.

 

Bahan-bahan yang masih bernutrisi mempengaruhi pada volume bsfl, semakin bernutrisi (campur)

semakin baik.

 

Pada suhu reaktor di bawah 30°C konversi terhadap kasgot Menjadi tinggi, yaitu mencapai 60% lebih. Hal ini dimungkinkan Karena bsf lambat mencerna bahan Organik. Konversi terhadap bsfl relatif berkurang antara 15% - 24% dari konversi terbesar yang pernah kami amati dan catat, yaitu 32%.

 

Menjadi perbandingan di daerah dengan ketinggian 668,7m dpl reaktor bsfl hangat dan hampir tidak berbau, yang membedakan di lokasi ini adalah asupan pakan bsfl dari bekas Sampah Organik hotel, besar kemungkinan kadar air nya cukup kisaran 60%-70%

asupan s.o.d ttl per box max 12kg

 

awal hatching, tgl 26/1 @2kg, tgl 8/2 @4kg, tgl 15-16/2 @4kg, ttl 10kg s.o.d kalaupun lebih yg 4kg mungkin bisa 5kg, jadi maksimal 12kg s.o.d+kohe ayam

konversi sdh cukup untuk maggot sekitar 16-25%

kasgot nya lebih banyak konversinya 60-75%.

 

ruang bsf di mif harus di tutup rapat dengan sirkulasi udara yg cukup, sehingga suhu bisa mudah diatur, termasuk pencahayaan. Ini membantu juga menghindari predator spt  : tikus , dll

 

Asupan bahan makanan maggot bsf sebaiknya sisa makanan yg heterogen, dalam penelitian saya 2010an : buah2an dan sayur2an berkadar air 90%; nasi basi, kue2, roti, tahu, tempe Dll berkadar air 70%; daging & ikan berkadar air 50%. Maggot ideal di kadar air 60-70%.

 

Suhu reaktor sepertinya bisa direkayasa juga dengan bahan2 asupan nya menghindari buah2an & sayur.

 

Karena air menyerap panas dan mendinginkan, sehingga reaktor berbahan asupan buah2an dan sayur2an saja cenderung lebih dingin dan sulit mencapai suhu ideal (35°c)

 

Total max s.o.d 12 jadi maggot 2-3kg, konversi 16% - 25%

Total max s.o.d 12 jadi kasgot 2-3kg, konversi 62%

 

https://youtu.be/ekL7FMO-rQE

Minggu, 14 Maret 2021

BSF DIKETINGGIAN 878 MDPL

BSF DI KETINGGIAN 878MDPL

Pada Maret 2018 kami mendampingi pengolahan Sampah Organik Sisa Makanan (s.o.d) di Kelurahan Cisurupan Kecamatan Cibiru Kota Bandung, lokasi berada di belakang Kantor Kelurahan. Ada beberapa warga yang mencontohnya untuk ditetapkan di wilayah masing-masing.
Kali ini masih di Kelurahan yang sama kami membantu MIF (Manglayang Integrated Farm) untuk merealisasikan cita-cita menjadi pusat belajar dalam mengintegrasikan pengolahan Sampah Organik di sektor hulu hingga Hilir dengan peternakan dan pertanian.
Diketinggian 878mdpl suhu ruangan di MIF sangat jarang mencapai suhu ideal untuk berkembangnya BSF. Meskipun telur BSF bisa kami hasilkan dengan baik (rata2 rutin ditahap awal dikisaran 10gram/Hari). Tantangan yang utamanya bukan di produksi telur bsf, melainkan menjaga kestabilan suhu reaktor hingga bisa mencapai 35°C dan stabil minimal di suhu ini. Perlu diketahui suhu ruang di MIF ; pagi Hari 24-26°C, siang Hari 26-30°C, sore Hari 22-26°C, malam Hari hingga dini Hari bisa di bawah 20°C.
Tgl 26/1/2021 telur bsf sebanyak 100gram kami tetaskan (hatching) dengan memberikan media untuk larva yang menetas s.o.d @2kg/box sebanyak 100boc, ttl 200kg s.o.d.

Tgl 8/2/2021, usia larva/maggot 9 Hari kondisi media tidak begitu baik, penyusutan bobot rata-rata hanya 50% saja, larva tampak tidak terlalu besar fisiknya, suhu reaktor rata-rata dibawah 30°C, kami berikan tambahan asupan s.o.d @4kg x 100box, ttl 400kg. Berharap terjadi proses reaksi di box-box tersebut seperti biasanya.
Keesokan harinya dilakukan pengecekkan suhu reaktor secara random, suhu rata-rata pada reaktor bsf 24-28°C. Dalam upaya peningkatan suhu reaktor diberikan kohe ayam dengan ditaburi dibagian atas dadicampur, sementara diuji beberapa box reaktor. Sorenya dilakukan pengecekkan suhu direaktor yg ditambahkan kohe ayam tersebut, suhu meningkat hingga 32°C pada pemberian kohe ayam yang ditaburi, sedangkan yang dicampur tdk banyak berubah. Perlu diketahui bahwa bahan Organik yang digunakan mayoritas Sampah Buah-buahan dari pasar Induk gedebage Kota Bandung, kadar airnya sekitar 90%. Kemudian perlakuan pemberian kohe ayam dengan ditaburi diberikan ke beberapa box reaktor dengan harapan suhu reaktor meningkat, sehingga proses bisa sesuai rencana.
Benar saja suhu reaktor yang diberikan asupan kohe ayam meningkat hingga 32°C, rata-rata box suhunya diatas 30°C, tapi blm ada yg mencapai suhu ideal minimum yaitu 35°C. Tgl 15/2/2021 kami berikan asupan s.o.d 40 box @4kg+ kohe ayam, maggot usia 15 Hari kelihatan ya cukup besar2 walau tdk merata semua box, sepertinya cukup pemberian s.o.d, menuju panen, diambil kasgotnya bagian atas 1cm mulai besok hingga 3hari ke depan. Yg belum besok dikasih s.o.d nya.

Tgl 16/2 s.o.d 80box @4kg+kohe ayam, terakhir kasih makan , 3 Hari ke depan panen maggot 100box
Rencana panen senin, 22/2/2021

Tgl 23/2 panen maggot 2kg & 2,5kg dr 2 box
Tgl 24/2 panen maggot ke 2 30kg. 
Fisik maggot besar merata panjang rata2 2cm.

Asupan s.o.d ttl per box max 12kg ; awal hatching, tgl 26/1 @2kg, tgl 8/2 @4kg, tgl 15-16/2 @4kg, ttl 10kg s.o.d kalaupun lebih yg 4kg mungkin bisa 5kg, jadi maksimal 12kg s.o.d+kohe ayam. Konversi bahan Organik Menjadi maggot bsf sekitar 16-25%, hanya saja kasgot nya lebih banyak konversinya 60-75% atau 7,4kg dalam tiap box.

Kesimpulan budidaya bsf di Ketinggian 878mdpl dengan mayoritas asupan pakan Sampah buah2an :
1. Suhu ruang mempengaruhi suhu reaktor. 
2. Perlu ruang insulated dengan design sirkulasi udara yg bisa buka tutup. Untuk menjaga suhu tetap stabil.
3. Pemberian media pakan berkadar air tinggi mempengaruhi suhu reaktor dan suhu reaktor mempengaruhi kemampuan makan maggot bsf.
4. Konversi bahan Organik Menjadi maggot bsf diketinggian kurang baik meskipun dirasakan cukup 16-25%.
5. Konversi bahan Organik Menjadi kasgot (bekas maggot) sangat tinggi 60-75%.

#NOLkanSOD #biokonversibsf #PakanTernakMurah #RevolusiHijau40 #KetahananPanganMandiri #ManfaatkanSampah #HilirSODTernakTaniIkan

LANGKAH AWAL MENUJU KOLABORASI NASIONAL

LANGKAH AWAL MENUJU KOLABORASI NASIONAL Pada kesempatan audiensi bersama Wakil Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia beserta jajaran K...