Minggu, 24 Januari 2021

Notulensi Audiensi PPM , DLH Jabar dan Managemen Pasar Caringin

Kadis LH Jabar (Ibu Prima)
Kolaborasi , sharing informasi, dlh siap memfasilitasi. Memperkuat pemberdayaan masyarakat, kami sangat harapkan karena hasil dari biokonversi ini bias menghasilkan. Kami dlh provinsi jabar bersama2 teman2 kab/kota bias melakukan pengurangan dengan biokonversi bsf. Hari2 belakangan ini kami kesulitab dengan anggaran karena adanya covid-19 , mudah2n teman2 pengusaha dalam hal ini pak agung (mantan ketua kadin jabar) bias memfasilitasi kegiatan2 terkait pengurangan sampah ini. Mohon maaf saya tidak bias mengikuti rapat ini hingga selesai karena ada kegiatan lain.

Ardhi (Ketua PPM)
Maping for moving forward, bagaimana kita bias lebih cepat mencapai pengurangan sampah sesuai dengan perpres no 97 tahun 2017 dan pergub no 91 tahun 2018. (paparan terlampir)
Pasar tradisional menjadi urutan ke 2 dalam timbulan sampah yaitu 24% , dan pusat perniagaan adalah 14% dengan total 38%. Menjadi menarik PPM JaBar sudah mengolaha s.o.d secara total pengurangan 27,22 ton/hari dengan hasil maggot. 

Dengan mengkhususkan diri melakukan pengolahan s.o.d secara umum, dan khusus untuk pasar tradisional dan kawasan perniagaan maka angka pengurangan adalah mendekati target dari perpres dan pergub tersebut dikisaran 25%. Utamanya adalah dampak lingkungan akan menjadi lebih baik.

Kabid LH Jabar (Pak Didi)
Kami persilahkan dari Kabupaten Ciamis yang sudah berhasil dan mendapatkan penghargaan.

Kabid Ciamis (Pak Giatno)
Selingkuh mas maggot = selamatkan lingkungan hidup masyarakat kelola bank sampah dan maggot. Merupakan terobosan baru di ciamis mulai dari 2017. Hasil dari maggot untuk pertanian, peternakan kolaborasi dengan dana desa. Yang tadinya tidak ada budidaya maggot sekarang ada 48 pembudidaya bsf.

Management Pasar Induk Caringin (Pak Yudi)
Kami memiliki kurang lebih 60ton s.o.d per hari dengan komposisi 95% organic, untuk kebutuhan maggot sangat tepat. Managemen membukan ruang untuk kerjasama dengan pegiat maggot, permasalahan kami adalah ruang yang terbatas, maka perlu identifikasi para pegiat yang dekat sekitar pasar caringin. Mengingat ke depan dengan tpa legok nangka tarif nya cukup membebani.

Kabid LH Jabar (Pak Didi)
Potensi sampah pasar caringin sangat mungkin dihabiskan dengan maggot hanya saja persoalan lahan shingga perlu dilakukan diskusi lebih lanjut terkait pegiat disekitar pasar caringin.

Pak Anang Sudarna (Pembina PPM)
Bagaimana besarnya potensi maggot sebagai solusi terdasyat sebagai solusi s.o.d, karena bias menyelesaikan persoalan ini dalam waktu kurang dari 24 jam. Ini adalah anugrah dari Allah SWT bagi kita. Ketika kami di lh jabar di 2016 sudah melakukan pelatihan dan di sarimukti sudah kita coba di 2017, sekarang tinggal dipacu oleh teman-teman di lh jabar. Kami di MIF (manglayang integrated farm) bersama dengan PPM mengembangkan nya di gunung manglayang.

Kami sudah 3 kali bertemu dengan pak agung, tujuannya “memprovokasi” pak agung untuk melakukan pengelolan, karena kedepan beban pasar induk caringin beban tiping fee akan sangat berat. Ke 2 ketika sampah organic tidak terkelola akan berdampak negative terhadap lingkungan khususnya air. Kami telah paparkan tentang potensi pengolahan s.o.d di caringin. Sisi lain kita memiliki kebutuhan akan fish mill yang selama ini import, artinya kebutuhan pasarnya cukup besar. Jika pasar caringin ingin memecahkan masalah kedepan jalan satunya adalah bsf, tidak ada yang lain. 

Karena industry maggot di dunia sudah besar. Ironisnya benyak pegiat yang kekurangan sampah (organic)

Kita bisa menjadi pilot model yang besar yang bisa dikembangkan, untuk jakstrada turunan dari jakstranas tidak ada cara lain untuk mengurangi sampah di 2025 kecuali dengan olah sampah organic, sedangkan sampah anorganik kurang dari dari itu. Sedangkan timbulan sampah dari pasar tradisional dan kawasan komersial lebih dari 30%. Saya sedang membuat konsep surat edaran Menteri LHK dengan penanganan sampah organic, karena saya masih ditugaskan oleh beliau. Kami menawarkan kepada jawa barat dan sudah dibicarakan dengan ibu kadis, sehingga akan tercapai target jakstrada dan jakstranas serta efisiensi anggaran.

Ardhi (Ketua PPM)
Sebagai informasi perkembangan bsf di Jawa Barat saya sengaja undang Ibu sari dari DKPPP Kota Bekasi dan dari DisPerIndagIn Kota Bekasi akan melaksanakan kegiatan biokonversi bsf di Kota Bekasi, saya melihat potensi besar di Purwakarta karena Bapak Dedi Mulyadi mengundang seluruh Kepala Desa sePurwakarta untuk melakukan pengelolaan sampah dari sumber dan bsf jadi salah satunya. Yang berikutnya adalah Kabupaten Bandung yang telah melaksanakan program RAKSA Desa (Rumah, Air, Kakus dan Sampah) di dalamnya ada olah sampah organic dengan bsf. Kelihatannya di 3 kabupaten kota ini akan bertambah pegiat maggot.

Pak Andono (warga kota bekasi, mantan Kadis LH Provinsi DKI Jakarta)
Insyaa Allah ini akan memberikan dampak yang besar terhadap lingkungan, dan saya telah berinteraksi dengan teman-teman ppm dengan semangat (gerakkannya) dan mempraktekkan sendiri, insyaa Allah ini akan membantu untuk mencapai Jakstranas dan Jakstrada. Di bekasi hanya dikomplek saja, namun menggerakkan 245 titik di Jakarta.

Ibu Sari (DKPPP Kota Bekasi)
Kota Bekasi sampah melimpah ruah, DKPPP sebenarnya DKPPP adalah user yang kendalanya pakan dan berkreasi untuk menjadikan  bsf sebagai alternative pakan. Saya kenal kang ardhi dari teman-teman balai pelatihan peternakan cikole lembang, di “racuni” PPM untuk mengembangkan maggot di Kota Bekasi. Terjun di bsf ini akhir tahun 2020, untuk bisa mendapatkan pakan ternak yang murah untuk ekonomi masyarakat lebih baik, bersama teman-teman PPM Bekasi. Untuk pengembangan ayam joper dan lele dengan pakan maggot, mudah-mudahan tahun ini bisa dijalankan. Kami berkomunikasi dengan dinas pasar sehingga bisa membantu yang lain. Sudah berkomunikasi dengan DLH termasuk teman-teman ppm juga dan Bappeda. Percontohan insyaa Allah di 2 lokasi pasar dari 43 pasar selebihnya di masyarakat.

Ardhi (Ketua PPM)
Berarti untuk kota bekasi, ditambahkan bobotnya untuk membantu bu sari dan pasar dalam mensukseskan programnya. 

Management Pasar Induk Caringin (Pak Yudi)
Kami dari pasar induk caringin sangat menyambut baik teman-teman ppm dan program bsf ini, kami membuka ruang sepenuhnya, apabila ada yang ingin berkerjasama bisa melalui pak 
Pak Anang sudarna (Pembina ppm) untuk merencanakan ke depan.

Pak Anang Sudarna (Pembina PPM)
Bagaimana dalam waktu ke depan merencanakan terkait road map terkait jakstrada, untuk mengadakan webminar dengan para kepala dinas kabupaten kota se jawa barat. Karena belum tentu semua mempelajari dan mengerjakan, sehingga bisa kita dorong beliau-beliau sebagai pelopor. Percontohan di berbagai titik sebagai percontohan untuk menginisiasi kabupaten kota, PPM akan membantu dan surat edaran kepada kabupaten / kota.

Yana (Ciamis)
Menambahkan, sangat baik mengumpulkan para kadis agar tidak hanya sekedar jadi follower, memberikan edaran kepada dinas-dinas lintas sector untuk sinergi. Dinas LH, Dinas Peternakan, Dinas Perikana untuk MOU saling mensukseskan.

Dadan Ramdan (Koordinator PPM JaBar)
Walaupun komunitas kami kecil tapi insyaa Allah bisa menyelesaikan persoalan sampah, sebagaimana maggot kecil-kecil tapi banyak dan ada di mana-mana sehingga bisa menyelesaikan persoalan sampah kita.

 

Selengkapnya di https://www.youtube.com/watch?v=bWp2iRwduOo&t=5813s

https://www.facebook.com/293102991510788/posts/868575570630191/ 


Sabtu, 02 Januari 2021

Focus Group Discussion (FGD) DLH Jawa Barat - WWF

 Focus Group Discussion (FGD)

PPM menyampaikan poin-poin, sbb :
1. Memperkenalkan: PPM (Paguyuban Pegiat Magot):
a. Sifatnya jaringan kerja, tersebar diseluruh
Indonesia (27 provinsi), 60% di Jabar
b. Pembina-pembina PPM:
I. Prof. Agus Pakpahan
II. Anang Sudarna
III. Kolonel Laut Ahmad Al Fajar
2. Kegiatan-kegiatan pengolahan sampah yang sudah dilaksanakan oleh PPM, berdasarkan inventarisir jumlah sampah organic terolah oleh jaringan PPM adalah 50 ton/hari dari 299 anggota dari 19 provinsi. Jumlah anggota PPM yang tercatat sebanyak 578 org dr 27 prov, 60% berasal dari Jawa Barat. Data olah s.o.d bsf 299orang, 50ton/Hari, 12 ton maggot/hr. Dr 19 prov. 70% Jabar, jkt, Tangerang.
3. Pengolahan sampah dengan Biokonversi BSF sangat relevan dan mendukung ketahanan pangan, yang menjadi prioritas pemerintah.
Sudah ada pembicaraan dengan klhk dan dinas kabupaten/kota untuk pemanfaatan pdu dan bsi serta tps3r
4. Dengan jaringan yang sudah terbentuk diberbagai kab/kota di Jawa Barat, PPM punya potensi cukup besar dalam rangka membantu pemerintah dalam pengurangan sampah, sebagaimana diamanatkan dalam perpres no 97 tahun 2017 dan pergub no. 91 tahun 2018 (jakstranas dan jakstrada)
5. Masalah ppm: PPM belum dapat berkembang sesuai dengan potensi nya, karena terkendala pembiayaan. Ppm sudah kerjasama dengan beberapa Lembaga, antara lain: Manglayang Integrated Farm (MIF), Pertamina MOR 3, Pertamina EP Tambun, PJB, HSBC, KEHATI, GIF.
6. Targeting pengurangan sampah 30% dan penanganan 70% sebagaimana diamanatkan dalam perpres dan pergub dalam pemikiran kami pengurangan itu akan tercapai apabila kita mengolah sampah organic, kalau hanya mengandalkan pengurangan sampah melalui bank sampah dan aktifitas olah anorganik potensi daur ulang akan sangat sulit. Karena memang total sampah anorganik kurang dari 45% (termasuk residu), berdasarkan studinya klhk (2016) dan bplhd jabar (2010)
7. Dengan kondisi seperti itu maka pengurangan 30% dapat dicapai apabila kita dapat mengolah sampah organic. Kelebihan biokonversi bsf adalah pengolahan sangat cepat, yaitu : kurang dari 24 jam, lahan yang dibutuhkan relative kecil, yaitu 1m2 untuk 100-140kg s.o.d/hari, hasil atau outputnya adalah pakan ternak, pupuk cair maggot (pcm) dan pupuk padat maggot (ppm), dimana olah organic lainnya terkendala waktu, tempat/ruang dan ekonomi). Maka menjadi sangat beralasan kalau kita memfokuskan dengan mengolah sampah organic
8. Pengolahan sampah organic ini juga sangat erat kaitannya dengan perbaikan lingkungan, pengurangan grk (pengendalian perubahan iklim)
9. Bagaimana kebijakan pemerintah provinsi dalam mewujudkan perpres dan pergub di atas. PPM dapat membantu pemerintah untuk mengurangi sampah organic ini melalui biokonversi bsf. Dalam kegiatan ini dlh tidak dapat berdiri sendiri karena Irisan dengan pakan ikan , pakan ternak dan pertanian dalam konteks pemanfaatan hasilnya.
10. PPM sudah memberi masukan kepada KLHK untuk dibuat Peraturan Bersama Menteri LHK, Menteri KKP, Mentan, Mendes, dan MenPUPR. Dengan pemikiran yang sama, kami juga menyarankan dlh untuk kerjasama dengan Distan, Disnak dan Ketahanan Pangan, Dinas KP, dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa.

Selasa, 29 Desember 2020

Mewujudkan Pentahelix Dalam Pengelolaan Sampah Dan Ketahanan Pangan

Kota Bekasi yang hangat , demikian hangatnya per maggot an nya....

*PENGURUS PAGUYUBAN PEGIAT MAGOT (PPM) BEKASI*

Berikut notulensi pertemuan Pengurus PPM Bekasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi yang dilaksanakan pada ;

*Hari/Tanggal :* Senin 28 Desember 2020
*Waktu :* Pukul 13:30 s/d 14:00 wib
*Tempat :* Ruang DLH lt 4 Pemda Kota Bekasi

Pengurus PPM Bekasi yang ikut serta dalam pertemuan adalah Ketua, Sekretaris, Humas dan Publikasi tidak bisa bertemu langsung dengan Bpk Helfi,hanya ditemuin oleh Staf bagian peningkatan kapasitas, dimana dri beliau didapat informasi² sbb :

1. DLH Bekasi saat ini belum ada pemahaman/informasi yang baik terkait maggot sebagai salah satu solusi alternatif masalah sampah organik

2. DLH sangat mengapresiasi adanya PPM dan siap mendukung gerakan yang sudah dilakukan

3. Untuk dukungan dalam bentuk sarana/fasilitas, PPM diminta membuat prolosal yang ditujukan kepada kepala dinas Lingkungan Hidup kota Bekasi

Dan berikut adalah informasi-informasi yang disampaikan tim terkait PPM:

1. PPM sudah tersebar di 12 kecamatan di wilayah kota Bekasi.

2. PPM sudah mempersiapkan dukunganan kepada dinas ketahanan pangan dalam bentuk pembentukan tim pendampingan Dinas Ketahanan PPP

3. PPM siap mendukung dan bekerjasama dengan pemerintah kota Bekasi dalam hal penanganan sampah.

Demikian notulensi ini dibuat untuk menjadi salah satu laporan dan bentuk kegiatan PPM Bekasi.

Terima kasih

Ttd

*Pengurus PPM Bekasi*

#NOLkanSOD #biokonversibsf #RevolusiHijau40 #KetahananPanganMandiri #ManfaatkanSampah #HilirSODTernakTaniIkan #PakanTernakMurah

Pengukuran Bio Massa Larva bsf Mengkonsumsi Sampah Daun Fermentasi Dengan Bakteri Bacillus Subtilis Dan Jamur Trichoderma sp

Mendampingi mahasiswa UIN Sunan Gunung Jati Bandung di @ppm bsf ranbol tps kelurahan ranca bolang Kecamatan Gedebage Kota Bandung.

Pengukuran Bio Massa Larva bsf Mengkonsumsi Sampah Daun Fermentasi Dengan Bakteri Bacillus Subtilis Dan Jamur Trichoderma sp.

#NOLkanSOD #biokonversibsf #ManfaatkanSampah #HilirSODTernakTaniIkan #RevolusiHijau40 #KetahananPanganMandiri #PakanTernakMurah

https://www.facebook.com/293102991510788/posts/853820455439036/

https://www.instagram.com/p/CJXtM5qhpdc/?igshid=2m9tqklqc9ow


 

Senin, 28 Desember 2020

Panduan Biokonversi Menggunakan Maggot BSF

 bisa download di panduan biokonversi bsf

Proses Pengolahan Sampah Organik dengan Black soldier fly (BSF)

Paguyuban Pegiat Maggot

Ringkasan

Panduan ini akan menjelaskan proses biokonversi tersebut yang telah menjadi perhatian akhir-akhir ini. Penggunaan larva BSF sebagai pengolah sampah organik merupakan suatu peluang yang menjanjikan, karena larva BSF yang dipanen tersebut dapat berguna sebagai sumber protein untuk pakan hewan (ternak), sehingga dapat menjadi pakan alternatif pengganti pakan konvensional




Latar Belakang

Pengelolaan sampah di daerah perkotaan merupakan salah satu hal yang paling mendesak dan merupakan permasalahan lingkungan yang serius, dihadapi oleh masyarakat yang tinggal di negara berkembang. Tantangan ini akan semakin meningkat karena adanya trend urbanisasi yang terjadi dan tumbuh dengan cepat di populasi masyarakat perkotaan, selain itu kita pun bisa merasakan perilaku konsumtif yang ada pada tatanan masyarakat kita dan juga mempengaruhi terhadap permasalahan sampah itu sendiri.

Refleksi terhadap timbulan sampah menurut Kementrian Lingkungan Hidup Dan Kehutan Republik Indonesia pada Rakornas Bank Sampah Tahun 2018 di Jakarta, sebagai berikut :

Klasifikasi Sampah Berdasarkan Jenis - KLHK 2018

Timbulan Sampah Berdasarkan Sumber Sampah - KLHK 2018

dengan proporsi sampah organik mencapai 57% ; 40% sisa makanan (s.o.d) menggambarkan bahwa proses pemanfaatan sampah organik belum optimal, padahal kita mengetahui bahwa sampah organik tersebut berpotensi untuk dimanfaatkan kembali, baik itu menjadi kompos, biogas dan salah satu yang bernilai, adalah konversi sampah organik menjadi pakan alternatif (biokonversi) salah satunya menggunakan Black Soldier Fly.

Panduan ini akan menjelaskan proses biokonversi tersebut yang telah menjadi perhatian akhir-akhir ini. Penggunaan larva BSF sebagai pengolah sampah organik merupakan suatu peluang yang menjanjikan, karena larva BSF yang dipanen tersebut dapat berguna sebagai sumber protein untuk pakan hewan (ternak), sehingga dapat menjadi pakan alternatif pengganti pakan konvensional.

Panduan ini dibuat berdasarkan pengalaman yang melakukan operasional pengolahan sampah organik menggunakan BSF dari Paguyuban Pegiat Maggot juga dengan kajian dari beberapa referensi para akademisi di Universitas-universitas di Indonesia yang sudah melakukan hal serupa dan beberapa lembaga internasional yang juga bekerja untuk mengembangkan sistem ini.

Melalui panduan ini, diharapkan dapat membantu komunitas masyarakat atau individu-individu yang ingin bergerak dalam pengolahan sampah organik dengan BSF di kawasannya masing-masing baik skala kecil ataupun skala besar. 

Tinjauan Teori

A.    Black Soldier Fly (Hermetia ilucens)

BSF termasuk dalam Ordo Diptera, Famili Stratiomydae. Jenis serangga ini dapat ditemui di seluruh dunia yang wilayahnya beriklim tropis dan subtropis. Dalam siklus hidup BSF, telur menandakan permulaan siklus hidup sekaligus berakhirnya tahap hidup sebelumnya, di mana jenis lalat ini menghasilkan kelompok telur. Lalat betina meletakkan sekitar 400 – 800 telur di dekat bahan organik yang membusuk dan memasukannya ke dalam rongga-rongga yang terlindungi dari pengaruh lingkungan, telur bsf tersebut terjaga dari ancaman predator, sinar matahari langsung yang dapat menghilangkan kadar air pada telur dan terhindar dari air sehingga akan mengakibatkan telur membusuk.

Pada umumnya, telur-telur tersebut menetas setelah empat hari. Larva yang baru menetas, yang berukuran hanya beberapa milimeter, segera mencari makan dan memakan sampah organik di sekitarnya. Larva akan memakan bahan organik yang membusuk tersebut dengan rakus, sehingga ukuran tubuhnya yang awalnya hanya beberapa milimeter akan bertambah panjanganya menjadi 2,5cm dan lebarnya 0,5cm, sedangkan warnanya menjadi agak krem.

Dalam kondisi optimal dengan kualitas dan kuantitas makanan yang ideal, pertumbuhan larva akan berlangsung +/- 18 hari. Namun, larva BSF merupakan serangga yang memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, yang mampu memperpanjang siklus hidupnya dalam kondisi yang kurang menguntungkan sekalipun. BSF hanya makan saat masih di fase larva. Maka, pada tahap perkembangan larva inilah mereka menyimpan cadangan lemak dan protein hingga cukup bagi mereka untuk berpuasa sampai menjadi lalat, kemudian menemukan pasangan, kawin dan bertelur (bagi betina) sebelum akhirnya mati.

Gambar Prepupa Dengan Pengukur Digital



Gambar Siklus Hidup BSF 


Spesifikasi Kandungan Asam Amino pada BSF yang telah dikeringkan 

 

Nutrisi pada BSF yang telah dikeringkan 


Petunjuk Teknis

Habitat asli BSF adalah pepohonan dengan ketinggian tertentu dan kerapatan tertentu pula, BSF tidak makan hanya sedikit minum bahkan menghisap sedikit sari bunga semasa hidupnya yang pendek, yaitu : 7 hari saja. Bsf dewasa akan kawin ketika berumur 4 – 6 hari, BSF jantan mati setelah kawin dan BSF betina mati tidak lama setelah bertelur. Oleh karena itu dalam menyiapkan kandang atau rereang house (rh) bsf sebaiknya disiapkan pula kondisi lingkungan yang asri sehingga nyaman untuk bsf. Hal lainnya adalah jauhkan kandang atau rh dari keramaian karena akan sangat berpengaruh kepada kondisi kawin dan bertelur bsf.

Suhu, Kelembaban Udara Dan Cahaya

Mereka nyaman dalam suhu ruangan antara 29°C hingga 32°C (max 35°C), dengan kelembaban 40% hingga 60%. Dalam pengamatan Kami bsf kawin di kelembaban 50% (plus – minus) dengan suhu 32°C (max 34°C). Jika dingin BSF (baik lalat maupun larva) akan cenderung diam, tidak aktif. Fase larva BSF membutuhkan suhu dalam reactor yang lebih hangat sekitar 35°C, namun dalam suhu 45°C selama 2 (dua) jam berturut-turut ia akan mati. Oleh karena itu aerasi atau sirkulasi udara yang baik sangat dibutuhkan BSFL (BSF Larva), karena material organic yang terfermentasi akan menghasilkan panas yang bisa mencapai suhu 60°C. Hal ini sangat dipengaruhi oleh ketebalan media organic yang menjadi sumber makanan sekaligus tempat hidup (habitat) BSFL (BSF Larva) dan kepadatan media. Pada fase larva yang sering disebut maggot tidak menyukai cahaya, maka BSFL akan cenderung berada di dalam timbunan media dan pakan nya. Kondisi media yang terlalu panas akan menyebabkan bsfl berada di bagian atas media, kondisi ini biasa terjadi jika media BSFL kering dengan kandungan air dibawah 25%.

Kandungan Air Pada Media


     Alaminya BSFL hidup dalam kondisi media dengan kadar air cukup tinggi, sekitar 60% kandungan        air, dalam kondisi normal dengan kandungan air yang cukup BSFL dewasa akan mencapai                      pertumbuhan yang maksimal. Jika kandungan air terlalu banyak (lebih dari 60%) BSFL akan                   mencari     tempat yang lebih nyaman (kabur), dan jika bsfl tergenang air dalam waktu tertentu ia           akan mati.           (ada pengalaman praktisi bsf , ia mampu bertahan di air dengan sedikit udara               (5%),  namun masih            membutuhkan penelitian lebih jauh).

      Bayi Larva / Maggot BSF

Dalam penelitian kami larva bayi, day old larva (dol) ketika menetas dari telur akan mengalami penyusutun sebesar 30% dari bobot telur awal. Larva bayi/dol akan mencari tempat dan makanan yang nyaman baginya, yaitu : bahan organic. Dengan makanan yang cukup (2 kg), per gram telur setelah menetas di hari ke 9 (usia larva) atau hari ke 12 dari telur  akan mencapai bobot 500gram, artinya 714 kali bobot awalnya hanya dalam 9 hari, Dengan kasgot / ppm (pupuk padat maggot) kurang dari 200 gram (10%). Seiring pertumbuhannya kemampuan ini menurun namun karena bobotnya semakin besar maka usia 9-11 hari fase larva adalah masa dimana larva mampu menghabiskan s.o.d secara signifikan. Dalam percobaan kami 1 gram telur dengan ketersediaan pakan (s.o.d) 2kg pada saat menetas, di usia 11 hari fase larva bobotnya 600-700 gram dan mampu menghabiskan s.o.d sebanyak 2kg kurang dari 24 jam (lukman 2020 tl-itb & ppm)

Prepupa

BSFL dewasa akan mengalami perubahan warna pada kulitnya menjadi lebih gelap, semakin tua kulitnya menjadi coklat kehitaman atau terkesan hitam, hal ini diawali dengan semakin terlihat jelas buku-buku pada kulitnya dan gerakannya semakin lambat. Pada fase ini BSFL disebut dengan Pre/pra Pupa (sebelum pupa). Fase prepupa alaminya BSFL akan mencari tempat yang lebih kering, kemudian menggali tanah dan kaku menjadi pupa (fase metamorfosa) untuk menjadi lalat BSF. Fase ini umumnya dimanfaatkan oleh para pembudidaya BSF sebagai masa panen. Kondisi kandungan air sangat menentukan dalam upaya panen yang tidak memerlukan bantuan apa-apa lagi. Namun dalam kondisi suhu yang lebih dingin pre pupa akan cenderung berdiam diri sehingga migrasi BSFL yang dijadikan keuntungan pembudidaya untuk panen tidak terjadi. Oleh karena itu menjaga kondisi suhu dan kandungan air menjadi kunci utama fase migrasi. PPM melakukan pengujian terkait pengaruh suhu ruangan dan suhu reactor terhadap kemampuan prepupa bermigrasi, menyimpulkan bahwa : suhu reactor 35°C mampu membuat prepupa migrasi hingga 300% dibanding suhu reactor 33°C. Dan suhu reactor sangat dipengaruhi oleh suhu ruangan dan kepadatan media, sisi lain media yang terlalu padat dan menumpuk akan mempersulit prepupa bermigrasi. Oleh karena itu pada fase ini ketebalan media dijaga untuk tidak melebihi 10 cm, dengan tetap diberikan s.o.d 50% dari dari fase larva dewasa. Maka sebelum melakukan pemberian s.o.d lakukan pengurangan media di posisi paling atas dengan tidak membawa larva / prepupa. Dengan demikian kondisi media akan selalu tetap terjaga ketebalannya. Tujuan pemberian 50% s.o.d pada fase ini adalah untuk tetap menjaga kondisi media yang terfermentasi sehingga tetap hangat (>35°C).

Pada kondisi tertentu prepupa tetap tidak bermigrasi meskipun suhu sudah >35°C maka perlu dilakukan pembasahan pada dinding-dinding reactor dan sebagian media dengan air secukupnya dengan tetap menjaga suhu reactor >35°C

Cahaya

BSF membutuhkan cahaya yang cukup untuk kawin dan bertelur sedangkan BSFL (larva/maggot) sensitive terhadap cahaya. Sehingga salah satu faktor yang menyebabkan BSFL tidak bermigrasi adalah cahaya yang menyinari reactor. Dalam kondisi prepupa untuk menjadi pupa bahkan BSFL harus benar-benar terhindar dari cahaya. Prepupa yang terpapar cahaya terus menerus akan menyebabkan BSFL berganti kulit terus, hingga tubuhnya mengecil dan akhirnya mati.


      Kawin dan bertelur membutuhkan cahaya yang cukup, namun telur BSF harus terlindung dari              cahaya dengan suhu yang sedang (29°-32°C). Telur yang terpapar cahaya langsung terlebih dengan       suhu yang cukup panas akan menjadikan telur BSF kering sehingga tidak menetas menjadi bayi              larva, alaminya BSF meletakkan telur-telurnya pada sesuatu yang kering di atas bahan organic yang       beraroma khas bahkan beraroma busuk (atractane). BSF tidak bertelur pada sampah atau makanan          langsung, karena bersentuhan dengan bahan organic langsung akan menyebabkan basah pada telur          bsf sehingga telur menjadi rusak. Hal ini yang menjadikan mudah untuk membedakan mana telur           BSF dari lalat lainnya dan hal ini juga yang dijadikan pembudidaya untuk memancing BSF bertelur       dan telurnya terperangkap dalam perangkap telur. Sebaliknya apabila terlalu lembab atau basah              maka telur akan rusak.  

Waktu Dan Fase-fase Pada BSF

PPM melakukan pengamatan pada fase lalat bahwa 2kg prepupa ketika menjadi lalat mampu bertelur hingga 75gram selama 14 hari dengan peningkatan yang signifikan di hari ke 5 hingga hari ke 10 kemudian tren nya menurun hingga hari ke 14. Dengan kondisi suhu rata-rata di pagi hingga sore hari 32°C dan kelembaban 50%. Kondisi lain yang menjadikan hasil maksimal adalah ternaunginya rh/kandang dengan tanaman secara random sehingga cahaya matahari yang masuk terhalangi oleh vegetasi, hal ini juga menjadikan kelembaban lebih stabil di areal sekitar kandang/rh.

Referensi :

  1. Profesor (riset) DR. Ir. Agus Pakpahan (dalam berbagai kesempatan)
  2. Black Soldier Fly (Hermetia illucens) sebagai Sumber Protein Alternatif untuk Pakan Ternak - (Black Soldier Fly (Hermetia illucens) as an Alternative Protein Source for Animal Feed) - April Hari Wardhana - Balai Besar Penelitian Veteriner, Jl. RE Martadinata No. 30, Bogor 16114, WARTAZOA Vol. 26 No. 2 Th. 2016 Hlm. 069-078 DOI: http://dx.doi.org/10.14334/wartazoa.v26i2.1218
  3. Kumpulan pengalaman praktek teman-teman ppm di berbagai daerah.

LANGKAH AWAL MENUJU KOLABORASI NASIONAL

LANGKAH AWAL MENUJU KOLABORASI NASIONAL Pada kesempatan audiensi bersama Wakil Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia beserta jajaran K...